Wahid Foundation Serukan Toleransi Melalui Program Desa Damai

Editor: Ary B Prass

 

YOGYA, KRJOGJA.com– Intoleran yang terjadi di suatu desa atau wilayah tertentu menimbulkan konflik yang berujung pada perpecahan dan menjadikan keresahan tersendiri bagi masyarakat dan negara. Hal inilah yang kemudian menginisiasi Wahid Foundation untuk membentuk “Desa Damai” di Indonesia yaitu suatu program guna menciptakan masyarakat yang demokratis dan berkeadilan terhadap nilai-nilai toleransi keberagaman dan perdamaian.

Pilot project Desa Damai ini sudah berlangsung sejak 2016 yang diterapkan di Sembilan desa dan kelurahan yang tersebar di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Sembilan desa tersebut antara lain Desa Nglinggi dan Desa Gemblegan Klaten Jawa Tengah, Desa Guluk-guluk dan Desa Prancak Sumenep, Jawa Timur.

Dijelaskan oleh Direktur Eksekutif Wahid Foundation Mujtaba Hamdi kepada KRJogja.com pada saat mentoring di Swissbell Hotel Yogyakarta (21/9) bahwa kegiatan mentoring Inisiasi Desa Damai ini merupakan bagian dari rangkaian program Gus Dur School for peace (GDSP). Selain pengetahuan, salah satu materi yang diberikan GDSP adalah mendorong adanya transformasi atau perubahan.

Program Inisiasi Desa Damai ini merupakan tahap dari transformasi. Peserta yang diundang dalam acara inipun yang sudah pernah terlibat dalam kegiatan GDSP sebelumnya. Dan diharapkan nantinya mereka akan memperluas inisiatif Wahid Foundation dengan program Desa Damai di wilayah mereka.

“Dasar kita untuk mengadakan program ini adalah dilihat secara garis besar kita cenderung merespon isu intoleransi dan radikalisme secara reaktif, oleh karena itu kita ingin membangun komunitas yang resilience punya daya tahan. Mereka punya kemampuan untuk menilai sendiri dan kemampuan untuk bertahan dari segala gempuran narasi intoleransi,” jelas Mujtaba Hamdi.

 

BERITA REKOMENDASI