15-22 Desember, Jangan Lupa ‘The Art Of Nguwongke #1’

Editor: Ivan Aditya

YOGYA (KRjogja.com) – Puluhan karya seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi dipamerkan dalam pameran bertajuk "The Art Of Nguwongke #1" di Taman Budaya Yogyakarta (15-22/12/2016). Sebanyak 23 seniman ikut ambil bagian dalam pameran seri pertama ini.

Nama-nama seperti M. Dwi Marianto, Yusman, Otok Bima Sidarta, Hajar Pamadhi, Liek Suyanto, Astuti Kusumo, Totok Buchori, Adjie Koesoemo, Godod Sutejo, Dewobroto, Operasi Rachman, Tarman, Thithut, Fatkur Rochman, Dakota, Tri Suharyanto, Joseph Wiyono, Iswanto, Tini, Eko Sunarto, Mulyono, Kibar Hardiono, dan Purjito dipastikan berpartisipasi dengan membawa karya terbaiknya. Mereka akan mencoba menyampaikan pesan mendalam melalui guratan karya seni baik dua maupun tiga dimensi.

Seniman Adji Koesoemo, salah satu penggagas pameran kepada wartawan Jumat (9/12/2016) menyampaikan bahwa The Art Of Nguwongke dibuat dengan berangkat dari kegelisahan terhadap pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan yang saat ini dirasa cukup mengkhawatirkan. Menurut dia, pameran ini nantinya akan diadakan tiap tahun sebagai peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia yang jatuh tiap tanggal 10 Desember.

"Setiap manusia  selalu ingin dicintai, didengar, dan diperhatikan hal-hal itu sangat wajar dan lumrah. Setiap manusia juga memiliki perbedaan, satu dengan yang lainnya, karena itu mereka harus mendapat penghargaan yang berbeda, termasuk dalam seni," ungkapnya.

The Art Of Nguwongke, diharapkan menjadi ajang apresiasi para seniman untuk menuangkan rasa kepeduliannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang tengah dikoyak oleh situasi dan kondisi saat ini. "Tak hanya itu kami juga berharap pameran ini bisa menjadi penghargaan terhadap perjuangan manusia-manusia yang  ingin memanusiakan manusia yang mulai kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya," imbuhnya.

Hal senada disampaikan dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, M. Dwi Marianto. Menurut dia, banyak hal dari kehidupan keseharian yang faktanya bertentangan dengan Hak Asasi Manusia.

"Praktik budaya dalam kehidupan sehari-hari yang belum nguwongke terjadi begitu saja di mana-mana, misalnya di jalan raya dimana ketidakpedulian terhadap keselamatan diri orang lain, dan juga bagi dirinya, semakin menjadi-jadi. Hal-hal humanisme kita perlu diasah lagi tampaknya dan semoga pameran ini menjadi nutfah perjuangan dan memperjuangkan hakikat keberadaan kemerdekaan untuk menyemangati perjuangan ‘rakyat’ bebas dari penderitaan," ungkapnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI