39 Warga Meninggal Saat Isoman, Hampir Semua Tak Bisa Akses Ventilator

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Koordinator Posko Dekontaminasi Covid-19 BPBD Sleman, Vincentius Lilik Resmiyanto mengungkap kondisi riil di lapangan terkait pemakaman protokol Covid-19 yang meningkat sepanjang Juni 2021 ini. Tim di Sleman bahkan mengungkap sudah memakamkan 39 warga yang meninggal saat isolasi mandiri (isoman) hingga 29 Juni kemarin.

Lilik mengungkap bahwa sejak 15 Juni lalu, grafik pemakaman protokol Covid meningkat signifikan di Kabupaten Sleman. Dalam sehari, tim bisa memakamkan hingga 28 jenazah yang mana jauh lebih banyak dibandingkan bulan Mei yang rerata 7-8 jenazah tiap hari.

“Kondisi ini pengaruh dari rumah sakit penuh, banyak pasien terpapar Covid akhirnya masuknya susah ditambah kondisi parah komorbid. Di Sleman yang meninggal di rumah sampai kemarin, 29 Juni tercatat ada 39, hari ini kemungkinan tambah lagi,” ungkapnya kepada wartawan secara daring, Rabu (30/06/2021).

Warga yang meninggal saat isoman, disebut Lilik mayoritas berusia di atas 50 tahun, tak mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit dan memiliki komorbid atau penyakit penyerta. Rerata kondisi mereka merupakan pasien terkonfirmasi positif maupun kontak erat karena seluruh keluarga dinyatakan positif.

“Kebanyakan di rumah tak punya oksigen, saturasi sudah sampai 80, itu kalau tidak dibantu oksigen kira-kira satu dua jam bisa meninggal. Kebanyakan gitu karena memang kondisi rumah sakit penuh,” tandasnya.

Tim pemulasaraan jenazah di BPBD Sleman, kini berkekuatan 7 tim dengan masing-masing terdiri dari 7-8 orang. Tim bekerja dengan arahan ketugasan menyesuaikan situasi di lapangan dan tidak jarang harus menerapkan peribahasa sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

“Kita punya 7 tim pemakaman namun karena situasi yang seperti ini, kita siasati rute yang agak dekat dengan pemakaman lainnya. Misalnya, kita jemput jenazah di RSA, pemakaman di Godean. Kemudian di RS Klepu ada juga untuk dimakamkan di Jalan Kabupaten, Mlati. Di sini tim bergerak sekalian dua kali pemakaman meski tetap koordinasi asasment bersama warga setempat, kami menimbun separuh dilanjut warga,” sambungnya.

Tim dari BPBD Sleman mengaku sempat kewalahan dan mengalami miss komunikasi hingga layanan call center ditutup selama satu jam. Penyebabnya, rumah sakit terlambat mengirimkan data pasien meninggal namun di sisi lain keluarga ingin proses pemakaman lebih cepat dilakukan.

“Kemarin sangat banyak telpon dan permintaan keluarga jadi memang harus sabar. Yang duluan telpon dan siap liang lahat itu kita dahulukan. Sering ada meninggal namun rumah sakit terlambat memberikan data, seperti di RSA meninggal jam 10 malam tapi diberi data baru pagi hari. Itu keluarga telpon terus dan akhirnya diputuskan tutup dulu satu jam kemudian dibuka lagi,” lanjutnya.

Tim pemakaman BPBD Sleman sampai saat ini masih terus melakukan tugas terbaik di tengah kasus yang melonjak tajam. Seluruh anggota tim pun diwajibkan mendisiplinkan diri tak boleh tertular virus karena tugas yang belum usai.

Sepanjang Juni, Tim Satgas Pemakaman Covid Sleman memakamkan lebih dari 225 jenazah. Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan bulan Mei lalu, 86 jenazah. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI