Ada Gerakan Jogja Berwakaf, Apa Itu?

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia (BI) dan Kantor Perwakilan (KPw) BI DIY menggandeng Dinas Koperasi dan UKM DIY, Biro Bina Pemberdayaan Masyarakat Setda DIY, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kemenag DIY, akademisi dari FEB UIN Sunan Kalijaga, organisasi keagamaan (BWI, GWI, MES DIY), LAZ DIY (Rumah Zakat, Dompet Dhuafa, Human Initiative, Lazis NU DIY, BMM, Baznas DIY, dan G2RT) serta perbankan (Asbisindo) membentuk konsorsium Jogja Berwakaf.

Konsorsium tersebut sebagai wadah yang memberikan edukasi kepada masyarakat akan pentingnya wakaf, melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pengentasan kemiskinan dalam rangka memfasilitasi terciptanya ekosistem pendukung proses pengelolaan aset wakaf melalui mekanisme koordinasi antar lembaga yang solid.

“Kegiatan ini merupakan wujud peran serta KPw BI DIY dalam membangun ekonomi nasional dan instrumen wakaf produktif menjadi sebuah gerakan dengan skala masif untuk meningkatkan literasi dan awareness masyarakat terhadap pentingnya wakaf dalam percepatan pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan,” ujar Kepala Perwakilan BI DIY Hilman Tisnawan saat membuka seminar di kantornya, Sabtu (2/11)

Selain kegiatan seminar, pada kesempatan itu juga ditampilkan showcase dari berbagai produk unggulan yang dihasilkan anggota Gerakan Jogja Berwakaf serta pelaksanaan lelang wakaf produktif pada berbagai program yang ditawarkan konsorsium Gerakan Jogja Berwakaf.

“Wakaf produktif merupakan wakaf harta yang digunakan untuk kepentingan produksi di bidang pertanian, perindustrian, perdagangan maupun jasa dimana manfaatnya tidak hanya pada benda wakaf namun juga pada keuntungan bersih yang berasal dari hasil pengembangan wakaf sesuai dengan tujuannya,” jelas Hilman. (KR)

BERITA REKOMENDASI