‘Simbiosis Mutualisme’ Perusahaan dan Pekerja Milenial Dibedah

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Tahun 2019 ini, generasi terbesar yang berkecimpung di dunia kerja adalah generasi milenial. Karakter khas yang dinamis dengan kemampuan mengadaptasi teknologi menjadi keunggulan namun tak jarang dikeluhkan perusahaan.

Topik tersebut mencuat dalam acara ngobrol bareng dan berbagi ilmu tentang Talent Management for Millenials di Prima In Hotel Malioboro, Selasa (29/10/2019). Beberapa narasumber hadir dalam agenda tersebut seperti Human Capital Director Maybank, Irvandi Ferizal, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigransi DIY, Andung Prihadi Santoso dan Guru Besar UGM, Konsultan dan juga Trainer Prof, Djamaludin Ancok.

Baca juga :

Mahfud Tanggalkan Jabatan Penasihat Sultan
Waspada! Angin Kencang dan Ombak Tinggi di Perairan DIY Pekan Ini

Irvandi Ferizal mengatakan, perubahan demografi membuat anak muda mulai mengambil peran untuk kepemimpinan perusahaan. Penguasaan teknologi menjadi pembeda yang terasa dalam dinamika perusahaan.

"Dulu semua manual, belum ada internet. Sekarang begitu cepat, sehingga terkadang ada gap di perusahaan. Generasi lebih tua kaget menghadapi generasi milenial,” ungkapnya.

Andung Prihadi Santoso tak menampik kondisi tersebut. Paradigma anak muda milenial dirasa juga berbeda dengan generasi sebelumnya. Hal tersebut membuat perusahan mau tak mau harus mengubah pola terbaru untuk keluar dari kebiasaan ritme usang.

Generasi milenial kadang hanya 2 atau 3 tahun kerja di perusahaan, sudah pindah ke tempat lain. Kalau generasi dulu, sampai pensiun. Ada yang menilai, generasi milenial tidak loyal pada perusahan. Itu terlihat dari masa kerja yang pendek pada mereka generasi muda milenial,” tandas dia dalam acara yang dihelat oleh Komunitas Praktisi Human Resource Indonesia (KPHRI) ini.

Sementara Guru Besar UGM yang juga Konsultan dan juga Trainer Prof Djamaludin Ancok menekankan bawasanya simbiosis mutualisme tetap harus diwujudkan untuk menjaga stabilitas perusahaan dengan banyaknya karyawan milenial.  Hal tersebut dilakukan untuk membuat generasi milenial lebih betah berada di perusahan atau sebuah organisasi.

“Tidak ada anak muda milenial mau kerja di level bawah. Ini menjadi salah satu upaya agar perusahan tidak salah dalam memperlakukan karyawan. Kalau perusahaan keliru menangani sumber daya manusia milenial ini, perusahan itu sulit untuk berkembang,” tandas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI