‘Simbol Pedestrian’ Kritik Terhadap Alih Fungsi Trotoar

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Pedestrian yang sejatinya menjadi kawasan pejalan kaki kini tidak bisa lagi dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Alih-alih dilewati orang, trotoar di Kota Yogya banyak digunakan sebagai tempat berjualan pedagang kaki lima, tempat parkir, hingga pendirian tiang dan papan reklame. Tidak jarang, trotoar menjadi jalan pintas pengurai kemacetan para pengendara bermotor yang tidak sabar untuk sampai di tempat tujuan.

Melihat fenomena tersebut, seniman Dedy Maryadi, melalui karya berjudul ‘Simbol Pedestrian’yang termasuk dalam gelaran Jogja Street Sculpture Project (JSSP) 2017 mencoba mengingatkan kembali fungsi trotoar yang sebagai area pejalan kaki. Ia memasang kurang lebih enam patung berbentuk kaki berwarna hijau di trotoar timur Jalan Jenderal Sudirman dengan konsep proporsi manusia sempurna yang mengambil bentuk bagian kaki serta menghilangkan bentuk atau potongan tubuh lain.

Dedy memadukan teknik campur, yakni cetak dan konstruksi serta menggunakan bahan polyester resin, semen, cat akrilik dan cat duco agar karya itu bisa dinikmati publik. ”Visual karya patung saya ini, selain sebagai properti artistik publik, juga sebagai ekspresi wujud keprihatinan mewakili hati nurani saya,” ujar Dedy.

Dedy menganggap pejalan kaki perlu diberi ruang khusus berupa trotoar bebas hambatan. Pasalnya, pejalan kaki terbukti tidak merusak alam, menambah polusi udara dan tidak menambah kemacetan. Justru, dengan berjalan kaki, orang bakal semakin sehat dan bugar karena mampu membakar kalori yang terpendam di dalam tubuh. ”Di trotoar perempatan Jalan Jenderal Sudirman itu juga tidak ada jalur khusus kaum disabilitas,” paparnya.

Dedy berharap Pemerintah Daerah (Pemda) dapat memberi pelayanan serta fasilitas terbaik untuk kaum disabilitas dan pejalan kaki. ”Marilah kita hargai dan hormati pejalan kaki, terutama di kota yang aktivitasnya semakin padat ini,” imbuh Dedy. (M-1)

BERITA REKOMENDASI