Agar Tak Munculkan Korban, Struktur Baliho di DIY Perlu Dimitigasi

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Robohnya baliho reklame besar di simpang empat ringroad utara Condongcatur menjadi perhatian sekaligus keprihatinan banyak pihak. Hal tersebut seakan menjadi puncak gunung es, bagaimana papan-papan iklan tersebut bisa sewaktu-waktu membahayakan nyawa warga masyarakat yang melintas.

Pada 5 tahun lalu tepatnya Desember 2016, di sekitar Gondokusuman juga terjadi baliho ambruk dan menimbulkan satu korban jiwa. Beberapa waktu kemudian juga terjadi ketika musim kampanye pemilihan legislatif 2019, baliho caleg ada yang ambruk juga di dekat jalan Kaliurang.

Dimas Hastama Nugraha, perekayasa ahli muda di Balai Pelaksanaan Penyediaan Perumahan Jawa III Kementerian PUPR di Yogyakarta mengatakan di satu sisi memang baliho menjadi pendulang pajak pendapatan daerah. Namun, implementasinya tampak masih belum sesuai aspek keselamatan sehingga perlu dilakukan peninjauan ulang.

“Struktur baliho perlu ditinjau ulang. Kedalaman fondasi, jenis baja dan beton yang dipasang di fondasi perlu ditinjau ulang. Dalam perencanaan pembebanan struktur terdapat beban hidup, mati, beban gempa maupun beban angin di mana ini semuanya harus juga diperhitungkan dalam peninjauan,” ungkapnya, Sabtu (15/01/2022).

Aturan mengenai beban angin menurut Dimas dapat menggunakan SNI yang ada, atau aturan- aturan yang ada. Misalnya digunakan SNI 1729-2002 tengang tata cara perencanaan struktur baja untuk bangunan gedung, dengan modifikasi untuk baliho, SNI 1727-2013 beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan struktur lain, serta aturan lainnya.

“Selain itu dalam merancang juga dapat memperhitungkan sejauh mana defleksi atau lekukan dengan adanya angin, dapat juga dipergunakan Acuan Peraturan Metode British Standard BS6399 Loading for buildings Part 2, Code of practice for wind loads, 1997. Untuk selanjutnya dapat digunakan software perancangan struktur untuk memodelkan sejauh mana pengaruh gempa, angin serta beban- beban lain. Semua tidak sulit, tinggal bagaimana goodwill dari Pemerintah Daerah setempat,” sambung alumni S2 Teknik Struktur Universitas Gadjah Mada ini.

Kedepan menurut dia perlu ada analisis struktur baliho, dan diperiksa oleh Dinas PUPR setempat sebelum dipasang oleh pihak penyewa titik reklame. Adapun yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman maupun Pemda DIY kedepannya adalah dapat melakukan audit struktur baliho yang ada.

“Bagaimana struktur baja baliho, bagaimana fondasi beton yang ada, untuk selanjutnya dilakukan uji kuat tarik baja misalnya, atau uji core drill untuk beton. Hal ini penting untuk menjamin keselamatan pengendara, pejalan kaki, maupun masyarakat,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI