Aktivis di Yogya Ajak Masyarakat Mulai Peduli Perubahan Iklim

YOGYA, KRJOGJA.com – Jaringan Masyarakat Peduli Iklim (JAMPIKLIM) DIY ambil bagian dalam demonstrasi perubahan iklim di tahun 2019. Demonstrasi tersebut untuk meningkatkan kesadaran terhadap perubahan iklim.

Dalam aksi, mereka mengajak masyarakat agar bersama-masa merawat dan menjaga bumi dengan baik. Perubahan iklim itu bukan sesuatu yang bohong, sehingga perlu ditanggani bersama.

"Tidak hanya dibelahan dunia lain, Yogyakarta pun makin panas. Disamping kekeringan, hujan juga datang terlambat. Ada sesuatu yang berubah dari bumi ini. Sehingga kita perlu melakukan sesuatu," kata peserta aksi Rona Mentari kepada wartawan saat aksi di Titik Nol Kilometer, Jum'at (27/09/2019) malam.

Kendati demikian, untuk melakukan sebuah perubahan, tidak melulu dengan cara yang yang lebih besar. Rona menyebut, cobalah mulai dari diri sendiri. 

Pertama, untuk menjaga bumi dengan baik, masyarakat disarankan untuk menanam pohon. Karena setiap hari, manusia bernafas menggunakan oksigen yang muncul dari tananam. 

Kurangi sampah plastik, karena yang sudah kita tahu, bahwa sampah tidak akan terurai sampai ratusan tahun. 

"Juga kurangi polusi, gunakan transportasi umum, dan sepedah. Sesuatu yang sering digong-gongkan tetapi kita sulit memulainya. Perlu menjadi gaya hidup sehari-hari," jelasnya.

Sementara menurut, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Yogyakarta, Halik Sandera, secara internasional, indonesia berkomitmen menurunkan emisi 29 persen secara mandiri dan 41 persen dengan bantuan negara lain. Tapi faktanya, komitmen itu masih jauh dari harapan. Misalnya kasus kebakaran hutan masih saja terjadi, apalagi tahun ini lebih parah. 

Di Yogyakarta sendiri menjadi salah satu pengguna energi terbanyak. Hal tersebut dinilai dari perkembangan sektor pariwisata yang semakin membesar.

"Yogyakarta sebagai kota pariwisata dan pelajar pasti menghadilkan limbah khususnya sampah yang semakin meningkat," ujarnya.

Ketika bumi sudah semakin rusak, pencemaran lingkungan juga terus terjadi. Kajian World Bank (2018) menyebutkan 30-50 persen sampah plastik yang terkumpul dibuang ke aliran sungai.

Sampah plastik seperti kantong, kemasan dan jenis-jenis sampah plastik lain seperti sandal karet, mainan, gelas plastik dan popok bayi ditemukan di semua aliran sungai di kota-kota besar Indonesia termasuk di Yogyakarta.

Sehingga mereka menuntut pemerintah untuk menata kembali kebijakan investasi yang merusak hutan dan lahan di seluruh tanah air.

Menuntut pemerintah untuk meninggalkan energi fosil, dan beralih ke energi baru dan terbarukan seperti angin dan matahari, menertibkan perilaku industri yang mencemar lingkungan dan merusak bumi seperti limbah dan sampah, menata kembali kebijakan pariwisata berbasis investasi, dan memberi ruang pariwisata berbasis masyarakat.

Korporasi juga dituntut agar merubah perilaku produksi supaya tidak menciptakan limbah yang merusak bumi. "Kami mengajak semua elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga bumi sebagai rumah bersama," pungkasnya.(Ive)

BERITA REKOMENDASI