Andi Bayou Siapkan Museum Musik Penginspirasi Generasi Muda

Editor: Ivan Aditya

BANYAK musisi Yogya yang tidak saja terkenal di kancah nasional, juga menginspirasi dan berjasa pada musisi lain. Andi Bayou salah satunya. Musisi yang mukim di Nogotirto Sleman Yogyakarta ini dihormati di kancah musik nasional, pun dunia. Sheila on 7, Iwan Fals, Nicky Astria, Judika, Syahrini, Rio Febrian, pernah merasakan bantuan musisi, produser, dan arranger bernama lengkap Andi Haryo Setiawan SH MH ini.

Putra Prof Dr Bambang Irawan-Prof Dr Drg Pinandi Sri Pudyani ini pernah rekaman di The Cutting Studio New York. Di tempat itu, The Corrs, Linkin Park, Boyzone, juga pernah rekaman.

Tahun ini, musisi kelahiran 20 Agustus 1971 ini merayakan 30 tahun dirinya berkarya di musik. Ingin mengetahui eksistensi, perjuangan, dan obsesinya, KRJOGJA.com mengajak ngobrol Andi via WhatsApp. Berikut kutipannya.

Eksis dalam durasi lama, gimana rasanya?

Tentu saja sangat bersyukur kepada Sang Pencipta. Atas berkah dan rahmat-Nya, saya diberikan bakat alam luar biasa di musik hingga berkarya sampai sejauh ini. Sebetulnya jika dihitung dari karya pertama saat SMA tahun 1988, sekarang sudah 32 tahun. Namun saya hitung sejak hijrah ke Jakarta tahun 1990. Jadi sekarang sudah tahun ke-30 saya berkarya di musik.

Jadi musisi awet tidak gampang. Resep awet bermusik?

Total, konsisten, dan ikhlas menjalani. Yang saya rasakan semua bisa terwujud karena perjuangan dan adanya cinta luar biasa kepada apa yang dijalani. Itu yang menjadikan saya total dalam bermusik dan betul-betul dalam menjalaninya. Satu hal yang perlu dicatat, untuk meraih mimpi menjadi musisi, saya rela keluar dari zona nyaman di Yogya, dan memulai karier bermusik di Jakarta dari nol.

Lulus SMA berani mengadu nasib ke Jakarta….

Keyakinan yang kuat akan bakat musik yang saya punya membawa saya nekad berani mengadu nasib ke Jakarta sendirian, di usia 19 tahun. Di Jakarta saya mulai dari membangun relasi dari tempat saya belajar musik di Indra Lesmana Workshop. Dari situ saya kenal musisi-musisi ibukota, seperti Andy Ayunir, Anto Hoed, Kadek Rihadika, dan lainnya. Saya juga bekerja membuat minus one untuk lomba menyanyi di Radio Suara Kejayaan, dengan bayaran Rp 50 ribu satu lagu. Semua saya jalani dengan ikhlas tanpa mengeluh. Suatu hari dapat job membuat minus one dari produser andal James F Sundah, yang akhirnya membawa saya bisa menjadi produser musik untuk Vonny Sumlang dan Premix Band, tahun 1992. Dari situ terkoneksi dengan Mus Mujiono. Dua lagu saya Maafkan, dan Abadinya Cinta dipercaya menjadi single hits dan judul album The Best of Mus Mujiono. Dari situ terkoneksi Mas Iman Sastrosatomo, A&R Manager Aquarius Musikindo. Yang kemudian bersama Pak Jan Djuhana merilis album band besutan saya dan Binsar, yaitu Bayou, tahun 1995. Lagu Hanya Dirimu karya saya jadi single hits Bayou, meledak di pasar musik Indonesia. Ternyata keyakinan kuat saya untuk bisa berhasil di musik menjadi kenyataan dalam waktu cepat, atas rahmat Allah.

Awal di Jakarta tentu mengalami duka cita, pun terhadang hambatan….

Saya memulai dari nol, dari menumpang tidur di studio-studio rekaman agar bisa kenal para produser dan mendapat job mengisi sesi kibor untuk artis-artis yang sedang rekaman. Setelah album Bayou meledak, saya masih tinggal di studio sampai 1999. Walau tahun 1995 saya sudah berhasil membeli rumah di Jakarta yang akhirnya jadi studio tempat saya bekerja.

Begitu cepat meraih sukses….

Tahun 1990 ke Jakarta, tahun 1992 sudah jadi produser musik dan arranger Vonny Sumlang, Premix Band, Mus Mujiono. Tahun 1993 saya gabung band Sket, sebelum Bayou merilis album. Singel Sket Takkan Kembali digemari, dan kami banyak manggung di mana-mana. Hingga jadi band pembuka Mr Big di Kuala Lumpur Malaysia tahun 1994. Tahun 1995 album Bayou dirilis, juga meledak. Kami manggung di mana-mana. Karena saya pintar menabung dan gaya hidup tidak aneh-aneh, saya bisa menabung uang. Dibantu orangtua juga bisa beli rumah di Jombang Ciputat, seharga Rp 58 juta, akhir 1995.

Adakah beda signifikan sebagai pemain band dengan produser/arranger?

Sebagai artis di depan layar tentu saja menyenangkan karena bisa bertemu banyak orang. Dan banyak ‘dunia mimpi’ yang sebenarnya itu ujian. Di belakang layar tentu saja ini mimpi saya sejak muda, jadi produser musik hebat seperti David Foster.

Sudah mengangkat nama Yogya di kancah nasional dan internasional lewat musik. Apa respons Yogya terhadap seorang Andi Bayou?

Cukup baik. Beberapa kali saya diundang sebagai pembicara di ISI Yogya. Kemudian tampil di beberapa acara budaya. Dengan GKR Mangkubumi juga sempat berencana berkolaborasi bareng di bidang seni budaya. Saya sedang menyiapkan museum musik di rumah, tempat saya pertama membangun studio rekaman mini di Yogya tahun 1988. Ya, semua mengalir saja.

Setelah merantau lama kini kembali ke Yogya….

Setelah konser 25 tahun saya bermusik di Rolling Stone Cafe tahun 2015, saya merasa ada suatu panggilan untuk kembali ke keluarga di Yogya. Pada 2016 saya putuskan pulang ke Yogya dan mengabdi pada keluarga. Setahun kemudian saya menikah. Dari situ saya seperti dituntun mengenali jati diri.

Keinginan terpendam terkait musik?

Memberi manfaat bagi orang banyak dengan meninggalkan jejak langkah dan data sebanyak mungkin, tentang perjalanan dan pemikiran saya di musik melalui karya tulis, karya gambar. Agar bisa menjadi inspirasi generasi ke depan. Tentu saja konser 30 tahun kiprah saya, dan 25 tahun Bayou, jadi obsesi saya. (Latief Noor Rochmans)

BERITA REKOMENDASI