Angka Perkawinan Usia Dini Terus Meningkat

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Berdasarkan data yang ada, pernikahan anak usia dini angkanya makin meningkat setiap tahunnya. Dari laporan UNICEF dan Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat ada 1.000 anak perempuan yang menikah setiap harinya.

”Sejumlah faktor yang mendorong perkawinan usia muda, seperti ekonomi, pendidikan, orangtua, diri sendiri hingga faktor adat setempat,” tutur dr Rikyanto SpKK, doker spesialis kulit dan kelamin RSUD Wirosaban.

Padahal menurut Rikyanto, hal tersebut justru berdampak buruk pada kesehatan dan reproduksi. Sebab itu pernikahan anak di bawah umur sebaiknya tidak terjadi. Terlebih jika kemudian terjadi kehamilan yang sebenarnya belum cukup aman bagi anak di usia remaja.

Pasalnya perkawinan bukanlah hal yang mudah. Terdapat banyak konsekuensi yang harus dihadapi sebagai tahap kehidupan baru individu dewasa dan pergantian status dari lajang menjadi seorang istri atau suami yang menuntut penyesuaian diri terus-menerus sepanjang perkawinan.

”Anak muda sekarang perlu mengenal program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP). Program ini merupakan upaya meningkatkan usia pada perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan, yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. PUP bukan sekadar menunda sampai usia tertentu saja, tetapi mengusahakan agar kehamilan pertamapun terjadi pada usia yang cukup dewasa,” sebutnya.

Tujuan program pendewasaan usia perkawinan ini guna memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar dalam merencanakan keluarga. Dengan demikian mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.

Sementara Guru Besar Fakultas Psikologi UGM Prof Drs Koentjoro MBSC PhD menuturkan, untuk menuju keluarga baiti janati perlu menerapkan konsep Senyum, Mendengarkan, Empati, Peka, Peduli, Pandai Memuji dan Aksi (SMEPPPA) yang harus dipraktikkan langsung.

”Kekuatan hubungan perkawinan ada pada keterampilan berkomunikasi. Bagaimana cara memecahkan masalah dengan konsep rukun. Meski ada konflik, tapi dijaga agar tidak muncul ke permukaan. Kebahagiaan itu diciptakan bukan dicari. Karena itu dengan bersyukur, menjaga dan merawat hubungan suami-istri bisa membuat keluarga harmonis,” ungkap Koentjoro. (Feb)

BERITA REKOMENDASI