Angkat Kembali Spirit Kongres Perempuan Pertama

YOGYA, KRJOGJA.com – Pada 22 Desember 1928 atau 90 tahun yang lalu, perempuan-perempuan di seluruh Nusantara mengadakan Kongres Perempuan Indonesia Pertama di Pendopo Ndalem Joyodipuran yang saat ini dipakai sebagai kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY. 

Dalam kongres perempuan tersebut kaum perempuan Indonesia bertekad berkontribusi dalam perjuangan melawan penjajah untuk meraih kemerdekaan. Spirit '90 Tahun Kongres Perempuan Indonesia' itulah yang ingin diangkat oleh Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI dalam peringatan Hari Ibu kali ini. 

Bekerja sama dangan BPNB DIY, diadakan berbagai kegiatan di Pendopo Ndalem Joyodipuran (Kantor BPNB DIY), Jalan Brigjen Katamso Yogyakarta 139 Yogyakarta, Sabtu (22/12/2018). Antara lain, pembacaan puisi Kumalahayati, pameran lukisan tokoh perempuan dengan teknik gutha tamarin dalam media kain sutera, serta seminar sejarah kongres perempuan pertama.
 
Direktur Sejarah, Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI, Triana Wulandari mengatakan, Kongres Perempuan Indonesia Pertama menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan masa kini untuk turut menyumbangkan pemikirannya demi mengatasi segala permasalahan bangsa. "Melalui kegiatan di Ndalem Joyodipuran ini kita ingin napak tilas semangat perempuan saat Kongres Perempuan Indonesia Pertama, dengan harapan muncul Srikandi-Srikandi hebat masa kini," terang Triana disela acara.

Salah satu kegiatan menariknya adalah pameran 33 lukisan tokoh perempuan dengan teknik gutha tamarin dalam media kain sutera. Antara lain lukisan pahlawan nasional Nyi Ageng Serang, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Dien, RA Kartini dan Tjoet Nyak Meutia. Sedangkan untuk tokoh inspirasi antara lain ada lukisan Yohana Yembise, Iriana Joko Widodo, Sinta Nuriyah Wahid, Ainun Habibie, Megawati Soekarno Putri dan lain-lain.

Triana menjelaskan, lukisan ini menggunakan teknik gutha tamarin yaitu melukis dengan menggunakan bubuk biji asam dicampur mentega, tanpa menggunakan printing, cairan lilin dan canting yang selama ini dipakai dalam teknik membatik nasional. "Pameran lukisan ini bertujuan mengenalkan kembali pahlawan dan tokoh perempuan Indonesia kepada masyarakat melalui visualisasi ekspresi media dalam kain sutra," ujarnya. Hadir dalam acara tersebut Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Marcella Zalianti.

Kepala BPNB DIY, Zaimul Azzah mengatakan, napak tilas 90 tahun Kongres Perempuan Indonesia Pertama, bertujuan untuk merefleksikan arti perjuangan kaum perempuan. Sedangkan pameran lukisan pahlawan dan tokoh perempuan sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai sejarah. "Sejarah tidak semata ditanamkan melalui bahasa tulisan, melainkan juga bisa dimakn ai lewat karya visual yang sarat spirit kesejarahan," Katanya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI