Annisa Hertami Tafsirkan Karya Sastra dalam Panggung Teater

Editor: Ivan Aditya

YOGYA (KRjogja.com) – Sebuah tantangan cukup berat baru saja dituntaskan Diajeng DIY 2014 Annisa Hertami pekan lalu. Gadis cantik tersebut sukses menafsar karya monumental Dee Lestari dari serial karya Supernova keempat berjudul Partikel. Karya sastra tersebut diterjemahkan dlam bentuk drama teater yang apik.

"Selain memainkan, saya juga sekaligus merangkap sutradara dan menulis naskahnya," tutur Diajeng Kota Yogyakarta 2013 tersebut kepada KRjogja.com, Jumat (30/12/2016).

Karya ini untuk kedua kalinya bagi dara kelahiran Magelang, 7 Oktober 1988 setelah sebelumnya juga sukses tampil monolog menafsir pembacaan cerpen di Tembi Rumah Budaya. Belum lagi pada kesempatan ini, sang penulis Novel Supernova, Dee Lestari ikut menyaksikan langsung pentas Annisa dan mengapresiasi positif keberaniannya memberi tafsiran pada karya yang laris di pasaran itu.

"Butuh waktu 1,5 bulan untuk mempersiapkan karya bersama tim. Sebenarnya jadi tantangan karena secara khusus aku belum pernah belajar teater secara formal. Dasarku di broadcast khususnya untuk penulisan naskah," lanjut gadis yang pernah membintangi Film Soegija (2012) ini.

Dalam karya ini Annisa mengaku memiliki ruang bebas untuk berekspresi. Hanya saja ia juga dituntut sadar akan adanya batasan sehingga bisa mengaktualisasikan karya dengan baik selaras dengan tema dan tujuan yang sejak awal ingin diraih.

Sedang di sisi lain, Annisa juga bercerita tentang perannya dalam film 'Nyai' yang rencananya mulai 2017 masuk Indonesia. Film garapan sutradara Garin Nugroho itu rilis pertama di Busan Korea Selatan dan selanjutnya hadir di beberapa negara lain. Namun begitu Annisa belum bisa banyak memberikan keterangan apakah film ini akan masuk bioskop ketika secara resmi tayang di Indonesia.

Film tersebut menurut Annisa sebagai bentuk apresiasi merayakan bertemunya sinema dengan seni tradisi. Merujuk pada film awal di Idonesia berjudul 'Lutung Kasarung' yang banyak mengangkat konten seni tradisional Indonesia.

"Sebab itu banyak mengambil pemain teater Yogyakarta. Selain itu tantangannya butuh 'take' panjang tanpa 'cut' yang mengharuskan konsentrasi penuh selama pengambilan gambar. Sebab jika salah sedikit saja harus mengulangi dari awal," katanya.

Annisa tidak hanya perlu menghafalkan naskah yang sedemikian panjang. Di saat bersamaan ia dituntut mampu mengucapkan dialog yang panjang serta memperhatikan bloking. Tidak heran jika Annisa sangat tertatang untuk menjadi bagian dari film yang dikatakannya bagian eksperimental ini.

"Mengambil latar belakang tahun 1927 yang banyak ngomongin hukum lokal, ketidakberdayaan pemerintah terhadap tekanan pihak luar dan lainnya. Jika dilihat konteksnya hampir sama dengan kondisi saat ini ketika sangat sulit menerima gelontoran pengaruh asing yang datang ke Indonesia," jelasnya. (R-7)

BERITA REKOMENDASI