Antarlina, yang Melekat dan Hilang

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Communication Awards (CA) merupakan sebuah kompetisi tingkat nasional tertua di Indonesia (sejak 2005), sekaligus ajang apresiasi bagi seluruh mahasiswa Indonesia di bidang kreatif yang diselenggarakan oleh Korps Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Komakom UMY). Pada tahun ke-13 ini CA  mengusung tema ‘Antarlina’ yang merupakan bahasa sansekerta yang artinya melekat dan menghilang. Antarlina merupakan satu kata yang menggambarkan kondisi bahasa daerah di Indonesia saat ini.

Bahasa daerah yang menjadi identitas Indonesia dalam keadaan kritis, bahkan 14 bahasa daerah telah dinyatakan punah. Menurut data yang diterbitkan oleh Laboratorium Kebinekaan, Indonesia memiliki 700 bahasa daerah namun Badan Bahasa baru mengidentifikasi 617 bahasa daerah.

Dari jumlah tersebut, hanya terdapat 13 bahasa daerah yang penuturnya di atas satu juta jiwa, di antaranya bahasa daerah Minangkabau, Batak, Rejang, Lampung, Sunda, Makassar, Aceh, Jawa, Bali, Sasak, Bugis, Madura dan Melayu. Sebanyak 139 bahasa daerah yang terancam punah dan 14 bahasa daerah telah punah, 10 berasal dari Maluku Tengah, diantaranya bahasa Hoti, Hukumina, Hulung, Serua, Te’un, Palumata, Loun, Moksela, Naka’ela dan Nila, empat diantaranya berasal dari Maluku Utara (Ternateno dan Ibu) dan Papua (Saponi dan Mapia).

Bahasa daerah merupakan salah satu ciri khas yang dimiliki Indonesia. Meskipun memiliki ratusan bahasa daerah, ada beberapa diantaranya yang berada dalam kondisi kritis atau terancam punah. Perlindungan terhadap bahasa daerah didasarkan pada amanat Pasal 32 Ayat 2 UUD 1945, yang menyatakan bahwa negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

Merespon permasalahan di atas, Communication Awards 2018 akan membawa misi khusus, yaitu menyadarkan sekaligus mengingatkan masyarakat Indonesia khususnya para generasi muda, bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis bahasa daerah. Communication Awards ke- 13 juga memiliki tujuan untuk menjaga sekaligus mencegah bertambahnya jumlah kepunahan bahasa daerah.

Punahnya bahasa daerah tidak boleh dianggap hal sepele, karena bahasa daerah merupakan salah satu kekayaan budaya Bangsa Indonesia dan dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Untuk itu Communication Awards 2018 hadir sebagai solusi dari  permasalahan yang sedang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini. Solusi tersebut akan disalurkan melalui karya kreatif yang pada setiap kompetisi.

Communication Awards 2018 memiliki empat kompetisi yaitu, Print AD, FFG (Festival Film Gadget), Integrated Campaign dan PR Nation. Melalui kompetisi inilah peserta yang terpanggil jiwanya untuk memberikan solusi melalui karya berupa Iklan Cetak, Film Pendek, Rancangan Program, dan Strategi Iklan.

Dari sekian banyak cara, hal inilah yang menjadi aksi nyata Communication Awards untuk mencegah bertambahnya kepunahan Bahasa daerah. Setiap tahunnya Communication Awards selalu konsisten mengangkat isu-isu sosial yang menjadi permasalahan bersama dan hadir memberikan solusi bukan sekedar orasi.

Selain itu Communication Awards juga memberikan apresiasi berupa penghargaan istimewa kepada Paksi Raras Alit, atas dedikasinya selama ini dalam melestarikan Bahasa daerah jawa. Harapanya akan bermunculan individu maupun lembaga yang peduli dan  memberikan aksi nyata sehingga kepunahan Bahasa daerah yang menjadi permasalahan kita bersama dapat teratasi.

Tak hanya itu Communication Awards juga turut memberikan penghargaan kampus terbaik. Penghargaan ini diberikan kepada kampus yang setiap tahunnya konsisten berpartisipasi mengikuti kompetisi dan memberikan ide-ide kreatif dalam menyelesaikan permasalahan isu sosial yang Communication Awards angkat.

Kedepannya, Communication Awards  akan terus digelar dengan mengangkat berbagai isu-isu sosial. Mari bersama Communication Awards mendukung sepenuhnya campaign “Bahasa Ku, Bahasa Mu, Bahasa Kita.” #LestarikanBahasaDaerah. (*)

BERITA REKOMENDASI