Antisipasi Aksi Anarkisme, Warga Yogya Resmikan Posko Janur Kuning Hari Ini

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Inisiatif warga membuat gerakan sosial untuk mengantisipasi kemungkinan terulangnya kembali anarkisme massa terus bergulir. Jejaring masyarakat Yogya bakal meresmikan ‘Posko Janur Kuning’ sebagai tempat koordinasi dan konsolidasi berkelanjutan menjaga ketentraman Yogya.

Rencana peresmian Posko Janur Kuning digelar di Jalan Malioboro tepatnya di depan Hotel Mutiara, Selasa (27/10/2020) sekitar pukul 09.00 WIB. Posko akan diaktifkan hingga situasi dinilai kondusif.

Sejumlah upacara seremonial telah disiapkan antara lain doa bersama, potong tumpeng, hiburan keroncong, flashmob dan pentas pengamen jalanan. Masih terbuka kesempatan bagi warga yang ingin berpartisipasi memeriahkan acara pembukaan posko.

Peresmian Posko Janur Kuning juga akan dhadiri perwakilan Forum Badan Eksekutif Mahasiswa DIY (FBD). Koordinator FBD Mohammad Asfar Yakib Untung memastikan akan ikut hadir bersama pengurus lainnya. “Pelibatan kalangan aktivis mahasiswa dinilai penting agar terbangun kesadaran kolektif bahwa menjaga ketentraman dan kedamaian Jogja merupakan tanggungjawab yang harus diwujudkan bersama,” jelasnya.

Bagi warga Yogya, janur kuning memiliki makna historis yang heroik. Saat ibu kota RI diduduki penjajah Belanda, pasukan gerilya yang dipimpin Letkol Soeharto atas dawuh Sri Sultan HB lX dan Panglima Besar Jendral Soedirman menyerang Belanda dan berhasil menduduki Jogja selama 6 jam.

Sebagai penanda para gerilyawan mengenakan kalung janur kuning. Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 itu membelalakkan mata dunia bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia masih eksis.

Dalam konteks hari ini heroisme pasukan gerilya ditransformasi sebagai semangat warga untuk menjaga Jogja tetap aman dan damai. Warga yang hadir dalam peresmian Posko Janur Kuning diminta menerapkan prosedur protokol kesehatan.

Merujuk pada situasi sosial kekinian, dalam catatan warga insiden perusakan terhadap gedung DPRD DIY dan pembakaran restoran Legian di Malioboro pada aksi unjuk rasa pada Kamis (08/10/2020) silam merupakan peristiwa terburuk dalam sejarah politik di Yogya dan dikategorikan sebagai kejadian luar biasa. Insiden itu sontak menyulut kemarahan warga, bahkan Gubernur Sri Sultan Hamengku Buwana X mengecam keras dan meminta pihak kepolisian menindak para pelaku kekerasan. (*)

BERITA REKOMENDASI