Antisipasi Kerugian Puso, Petani di DIY Diimbau Ikut AUTP

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Setidaknya lahan pertanian seluas 1.003,9 Hektar (Ha) di DIY yang seluruhnya berada Kulonprogo masih tergenang air akibat curah hujan tinggi per 10 Februari 2021. Namun diperkirakan lahan pertanian yang masih tergenang tersebut akan surut dalam tiga hari kedepan sehingga masih belum masuk kategori gagal panen atau puso.

Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY Syam Arjayanti mengatakan gangguan cuaca La Nina yang sedang berkembang saat ini dan diperkirakan berakhir pada Maret hingga April 2021 berdampak sangat besar terhadap sektor pertanian baik positif maupun negatif. Untuk itu, pihaknya telah melakukan koordinasi bersama Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) DIY, Stasiun Klimatologi Sleman, BMKG Stasiun Klimatologi Sleman, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) serta BPTP dan Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPSDMP) sebelumnya.

“Kami telah berkoordinasi guna mengidentifikasi potensi-potensi permasalahan dan tindakan antisipasi yang bisa dilakukan guna meminimalisir kerugian petani akibat dampak curah hujan yang tinggi tersebut,” ujar Syam kepada KRJOGJA.com di Yogyakarta, Senin (22/02/2021).

Syam menyampaikan pihaknya telah melakukan inventarisasi lahan pertanian baik padi, bawang merah dan cabai yang terdampak curah hujan tinggi total mencapai sekitar 1.116,9 Ha di Kulonprogo sampai dengan 10 Februari 2021 lalu. Dari total lahan pertanian yang terdampak tersebut, setidaknya 1.003, 9 Ha yang masih tergenang air hujan yang posisinya per 10 Februari 2021 yang tengah ditangani dengan upaya pompanisasi dan normalisasi drainase.

“Dari laporan data perkembangan data yang terdampak curah hujan tinggi, lahan pertanian di DIY yang terdampak hanya di Kulonprogo sejuah ini. Lahan pertanian di Kulonprogo tersebut masih tergenang air seluas 1.003,9 Ha yang merupakan lahan tanaman padi, bawang merah dan cabai. Kami lakukan upaya pompanisasi dan normalisasi drainase supaya genangan air segera surut dan semoga tidak terjadi puso,” tuturnya.

Wakil Kepala DPKP DIY ini menjelaskan apabila terjadi puso atau gagal panen, diperlukan dukungan anggaran bagi petani yang terdampak La Nina. Namun setidaknya mayoritas petani di lokasi tersebut sudah mengikuti Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Pihaknya pun senantiasa memberikan himbauan kepada petani yang berada di wilayah rawan banjir atau bencana agar mengikuti AUTP tersebut.

“Kami berharap air yang tergenang di lahan pertanian tersebut segera dapat diatasi supaya tidak mengganggu produktivitas tanaman pertanian di DIY. Kami pun terus meningkatkan pengamatan secara intensif terutama pada daerah-daerah rawan banjir di DIY,” imbuhnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI