Apoteker Bantul Tolak Permenkes Nomor 3/2020, Ini Alasannya

BANTUL, KRJOGJA.com – Para apoteker yang tergabung dalam Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kabupaten Bantul melakukan rapat kerja daerah dan seminar nasional guna meningkatkan pelayanan tenaga kefarmasian di era disruptif. Termasuk menolak dengan tegas keluarnya Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 3 Tahun 2020 tentang klasifikasi farmasi di rumah sakit.

“Permenkes itu merugikan tenaga farmasi karena mengklasifikasikan apoteker termasuk tenaga non medis. Karena selama ini dan sudah diatur dalam RUU Kefarmasian, keberadaan apoteker masuk dalam tenaga medis seperti dokter, perawat sampai bidan,” ungkap Ketua PC IAI Kabupaten Bantul Amirul Mustofa MMR, Apt didampingi Wakil Ketua PC IAI Kabupaten Bantul Pendhico Eko Yuliato SFar, Apt disela Rakerda di Hotel Alana Malioboro Yogyakarta, Minggu (16/02/2020).

Menurut Amirul kehadiran Permenkes itu akan menghalangi apoteker untuk berinteraksi dengan pasien. Padahal keberadaan apoteker berfungsi mengawasi penggunaan obat atau memonitor kesembuhan pasien melalui takaran obat yang tepat. Karena itu, PC IAI Bantul bersama PD IAI Yogyakarta sudah mengirimkan surat rekomendasi ke Kemenkes.

“IAI Jateng, Jatim dan IAI yang lain juga sudah mengirimkan surat rekomendasi kepada Kemenkes untuk tetap memasukkan apoteker sebagai tenaga medis di rumah sakit. Kami juga mendesak kepada pemerintah dan DPR untuk segera menetapkan RUU Farmasi menjadi UU. Melalui UU itu, posisi apoteker sejajar dengan dokter, bidan, perawat yang sudah diatur dalam UU tersendiri,” paparnya.

Selain mendesak dicabutnya Permenkes itu, Amirul juga menyampaikan IAI Kabupaten Bantul meminta pembebasan biaya penggunaan aplikasi Sistem Informasi Apoter (SIAP) kepada IAI Pusat lantaran memberatkan para apoteker. Padahal, selama ini sudah membayar iuran tahunan dan membutuhkan ilmu baru baik melalui seminar atau aplikasi sesuai dengan perkembangan zaman.

“IAI Bantul bersama IAI lain akan terus berjuang agar UU Farmasi disahkan dan membenahi hambatan yang ada sehingga para apoteker bisa melayani masyarakat dengan maksimal,” pungkasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI