APSI Suport Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus di DIY

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com -Saat ini permasalahan tumbuh kembang anak semakin banyak dijumpai di tengah masyarakat, terlebih pada anak berkebutuhan khusus (ABK). Banyak orantua yang cemas terkait dengan perkembangan anaknya yang terhambat. Kondisi tersebut tak ubahnya dengan keresahan guru yang menjumpai siswa dengan permasalahan dari hari ke hari yang semakin kompleks di sekolah.

Oleh sebab itu peran serta professional, termasuk psikolog sangat diperlukan guna membantu penyelesaian permasalahan ABK di tengah masyarakat. Berangkat dari itulah, Asosiasi Psikolog Sekolah Indonesia (APSI) wilayah DIY mempersembahkan sharring online dengan judul ‘Asesmen dan Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus’.

Acara yang diselenggarakan tanggal26 Desember 2020 ini dihadiri oleh berbagai pihak, mulai dari pengurus APSI Pusat, pengurus dan anggota APSI wilayah DIY, psikolog pendidikan dari berbagai wilayah di Indonesia, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, mahasiswa maprodik dan juga praktisi psikologi dan pendidikan.

Dalam sambutannya Ketua APSI Pusat, Dr Indun Lestari Setyono menyampaikan untuk menentukan intervensi yang jelas diperlukan asesmen yang benar, sehingga asesmen bagi ABK harus benar dan berdasarkan pada kompetensi yang diperlukan anak untukmengikuti proses pembelajaran, seperti membaca, menulis, dan berhitung. Perlu juga kasus ABK diseminarkan di hadapan beberapa ahli, sehingga asesmen yang didapatkan tepat dan menjadikan intervensinya benar.

Hal ini juga dikuatkan dengan paparan dari Psikolog Rosana DewiYunita MSi selaku narasumber yang menyampaikan dalam asesmen tidak hanya menitikberatkan pada kekurangan anak namun juga disertai menggali kelebihan anak, sehingga bisa dikembangkan dan menjadikan anak dapat mandiri dan berdikari. Selain itu Rosana juga menekankan pentingnya pemberdayaan keluarga sebagai mitra untuk mengembangkan potensi anak.

Sementara itu Kepala ULD Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Drs Aris Widodo, M.Pd selaku narasumber kedua menekankan pada penanganan ABK di sekolah, terutama di Kota Yogyakarta. Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta telah menjadikan sekolah sebagai sekolahv penyelenggara pendidikan inklusi (SPPI) yang berarti ABK bersama-sama dengan siswa lain bersekolah di sekolah regular di bergbagai jenjang pendidikan.

Sebagai SPPI, sekolah wajib melakukan identifikasi terhadap anak yang dicurigai sebagai ABK, melakukan asesmen baik secara akademik ataupun psikologis, menemukan profile utuh anak, dan menyusun adaptasi maupun modifikasi kurikulum sesuai denganhasil asesmen pada masing-masing anak. Di Kota Yogyakarta, sekolah reguler juga telah bekerjasama dengan SLB dengan sistem pull out, dimana satu waktu siswa yang mengalami hambatan mental di sekolah reguler dapat belajardi SLB untuk mengembangkan kemampuan dasar ataupembelajaran individualnya berbasis vokasi.

Acara ini selain memberikan kemanfaatan praktis bagipsikolog dan praktisi pendidikan dalam menangani ABK, juga sebagai sarana launching kepengurusan APSI DIY. Psikolog Nur Widiasmara MPsi selaku Ketua APSI wilayah DIY berharap para lulusan psikolog pendidikan yang ada DIY bisabergabung di APSI untuk bisa memberikan peran membantumasyarakat, khususnya dalam penanganan permasalahan ABK di Yogyakarta. (*)

BERITA REKOMENDASI