Arah Erupsi Merapi Dominan ke Selatan – Tenggara

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Erupsi besar tahun 2010 telah mengubah morfologi kawah Gunung Merapi dengan bukaan kawah menghadap ke Selatan. Kondisi ini tentu mempengaruhi arah ancaman bahaya erupsi saat ini dan erupsi-erupsi berikutnya.

”Berdasarkan kondisi morfologi kawah saat ini, arah ancaman dominan ke arah Selatan-Tenggara,” terang Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida.

Kabupaten Sleman di DIY menjadi daerah dengan potensi ancaman yang paling besar karena berada di sisi Selatan Merapi. Selain morfologi kawah yang berubah, menurut Hanik, erupsi besar 2010 juga menyebabkan terbentuknya kawah yang dalam, sehingga sumbatan-sumbatan saat ini tidak terlalu kuat.

”Sumbatan-sumbatan itu tentunya ada, tetapi akibat erupsi 2010 yang membentuk kawah yang dalam, sehingga sumbatan-sumbatan saat ini tidak terlalu kuat. Sumbatan-sumbatan itu tentunya ada, tetapi akibat erupsi 2010 yang membentuk kawah yang dalam, maka sumbatan-sumbatan tersebut tidak terlalu kuat,” ujarnya.

Dengan kondisi sumbatan yang tidak terlalu kuat, maka akan mudah didobrak oleh magma yang bergerak ke permukaan, sehingga tidak terjadi akumulasi energi yang besar di bawah. Jika terjadi letusan, diharapkan energinya juga tidak besar.

Adapun dari data pemantauan sepanjang 14 November 2020, menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang terus meningkat. Terjadi 39 kali gempa Guguran, 43 kali gempa Vulkanik Dangkal, 63 kali gempa Hembusan, tiga kali gempa Low Frequency, 306 kali gempa Fase Banyak dan dua kali gempa Tektonik. Terdengar suara guguran sebanyak enam kali (lemah hingga sedang). Laju rata-rata deformasi EDM Babadan sebesar 12 cm/hari. (Dev)

BERITA REKOMENDASI