Argya Bayuaji, Mahasiswa Pengidap Parkinson yang Jadi Asisten Dosen

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Argya Bayuaji (22) sempat shock ketika mendengar vonis dokter pada September 2018 lalu bahwa dirinya mengidap penyakit parkinson.

Pada awalnya, ia mengecek keadaannya di salah satu Rumah Sakit di Yogyakarta, akan tetapi karena tidak memercayai hasil tersebut ia memutuskan untuk mengecek kembali di salah satu Rumah Sakit di ibukota. Namun hasilnya tetap sama, Argya juga didiagnosa menderita parkinson.

Parkinson merupakan sebuah penyakit yang kronis dan progresif. Penyakit ini terjadi karena adanya degenerasi sel-sel syaraf terutama di bagian otak tengah.

Akibatnya dopamin yang berfungsi sebagai pengatur gerakan tubuh menjadi defisit. Hal ini menyebabkan gerakan seseorang menjadi tidak terkontrol. 

Baca juga :

PT Taspen Tak Pernah Kirim Petugas Lakukan Penggantian KARIP
Kebijakan Penggantian UN Jangan Sampai Dibajak Birokrasi

Biasanya penyakit ini menyerang orang yang berusia 50 tahun ke atas dan disebut sebagai penyakit orang tua. Semakin bertambahnya usia, keadaan seseorang dapat semakin memburuk akibat penyakit ini.

“Waktu pertama kena itu yang langsung muncul adalah perasaan tidak percaya. Serius, aku masih muda banget, tidak mungkin. Aku sempet depresi dan cuma mengurung diri di kamar sampai tidak kuliah selama seminggu," ucap Argya dengan suaranya yang serak akibat parkinson.

Diceritakan Argya, dokter yang menanganinya sempat mengatakan jika kasus yang menimpa dirinya cukup langka karena menyerang dalam usia cukup muda yakni 22 tahun. Bahkan Argya termasuk pengidap parkinson termuda yang penyebabnya pun belum dapat diketahui secara pasti sampai saat ini.

“Kalau aku gejala awal yang muncul itu ‘pill rolling tremor’, kayak ngitung uang itu lho. Awalnya aku tidak mau periksa, tapi karena makin lama makin parah terus akhirnya aku memutuskan untuk periksa. Awalnya cuma tangan, baru setelah itu ke kepala sama kaki bagian kanan, terus sekarang mulai menjalar ke kiri. Paling kelihatan tremor itu kalau pas istirahat, karena nggak melakukan sesuatu," jelas Argya.

Disamping tremor Argya juga menambahkan sendi-sendi orang yang mengidap parkinson akan kaku. Jalannya melambat, kepalanya semakin merunduk, keseimbangannya terganggu, serta hilangnya refleks ekspresi yang menyebabkannya kerap terlambat tertawa.

Akibat penyakit yang dideritanya ini, keseharian Argya menjadi banyak berubah. Mulai dari memegang benda, tangannya jadi lebih gemetar dan melambat. Lalu memakai baju dan celana sampai makan, waktu yang diperlukan lebih lama karena pergerakan tubuhnya yang membuatnya agak kesulitan.

Ia pun bercerita bahwa dulu pergi kemanapun bisa mengendarai motor sendiri. Namun sekarang ia membutuhkan bantuan adik, teman, maupun ojol untuk mengantarkannya ketika ia hendak pergi. Bahkan mulai sekitar 2-3 bulan yang lalu, penyakit ini juga mempengaruhi suaranya yang menjadi lebih serak dan cadel.

Tak hanya kesehariannya dalam beraktivitas, namun penyakit yang dideritanya ini juga mempengaruhi sikap teman-teman Argya. “Temenku dulu banyak, sebelum mengidap penyakit ini. Tapi setelah kena, temenku gugur satu per satu, banyak yang menjauh," imbuh mahasiswa Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta ini.

Tak hanya sekedar ejekan saja, namun tindakan fisik juga dialami Argya dengan kondisinya sekarang. Ia mengaku pernah dipukul serta didorong hingga jatuh. Ia tidak mengerti motivasi orang-orang tersebut melakukan hal itu, padahal ia pun tidak mengenal mereka.

Namun walaupun mendapat perlakuan seperti itu, Argya tidak pernah menyerah. Ia berusaha bangkit kembali dan menunjukkan kebisaannya di tengah sakitnya itu. Argya menjadi asisten dosen di kampusnya.

“Langsung ditunjuk aja sih yang jadi asisten dosen itu. Karena ada kaitan juga penyakit parkinson dengan materi yang dibahas, makannya aku dipilih juga. Dosenku juga pernah bilang kalau orang yang paham penyakit itu adalah orang yang menghayati secara langsung. Terus tanggapan dari mereka yang aku asdosin itu katanya asyik. Karena aku lebih membawa ke kasus, menunjukkan contoh riilnya, mempraktekkannya, nggak sekedar teori aja," jelasnya.

Di samping menjadi asisten dosen, Argya juga beberapa kali diminta sharing di seminar maupun kuliah umum. Beberapa diantaranya adalah seminar nasional dan studium generale di kampusnya, di sebuah forum komunitas penyandang disabilitas, hingga di Panti Wredha. Terkadang, ia pun diminta sharing di kelas-kelas tertentu.

Sesekali muncul kesulitan ketika sedang mengisi yakni audience kurang jelas dengan suaranya sehingga tidak dapat menangkap maksudnya. Maka dari itu, cara yang ia lakukan adalah dengan meminta bantuan teman yang ia kenal dalam acara yang diisinya untuk menjelaskan maksudnya.

Pernah Coba Gantung Diri

Argya mengaku tidak mudah menjalani kehidupan dengan penyakit parkinson ini. Gangguan-gangguan seperti kecemasan menyeluruh dan gangguan tidur terkadang muncul. Emosinya pun menjadi tidak stabil, ia menjadi lebih sensitif dan mudah marah.

“Kadang suka kambuh depresi mayornya, jadi muncul keinginan bunuh diri, menabrakkan diri ke orang atau suatu benda. Aku pernah lakukan itu 6 kali, bahkan sempet over dosis juga. Pernah juga mau gantung diri pas awal-awal kena, dan saking frustrasinya aku juga pernah minta disuntik mati. Tapi sekarang udah nggak gitu," kata lelaki dua bersaudara ini.

Semangat dari orang-orang terdekatnyalah yang membuat Argya tetap bertahan dan kuat menjalani hidup bersama penyakit parkinson ini. Orangtuanya tidak pernah membatasi kegiatan Argya dan teman terdekatnya selalu menguatkannya melalui perkataan maupun tindakan. Argya dibantu berjalan ketika di kampus, pun diantarkan pulang selepas kuliah.

Oleh karena itulah, Argya berpesan bagi para pengidap penyakit parkinson agar semangat, gigih dan selalu berdoa. Parkinson membuat pergerakan seseorang terbatas, namun bukan berarti orangnya menjadi ikut terbatas. Ada banyak solusi yang bisa dilakukan ketika satu pekerjaan tidak bisa dilakukan sendiri.

“Contohnya aku nih ya, karena parkinson kan jadi nggak bisa nulis, ya aku rekam pakai handphone, terkadang bahkan aku bawa recorder. Jadikan parkinson itu teman, bukan penyebab kematian karena yang tahu parkinson ya diri kita sendiri,” pungkas Argya akhirnya. (Felicia Echie)

BERITA REKOMENDASI