Artda 1.0 Diluncurkan, Augmented Reality Tembang Dolanan Anak

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Augmented Reality Tembang Dolanan Anak (ARTDA) merupakan aplikasi yang memberikan pengalaman baru belajar secara interaktif mengenai tembang dolanan anak. Aplikasi ini digabung dengan buku yang menyajikan keterangan tembang dolanan anak secara keatif dan imajinatif, sekaligus memuat marker yang dapat dipindai oleh kamera gawai yang sudah terpasang aplikasi ARTDA. Selanjutnya aplikasi ini bisa didownload secara gratis di Google Playstore.

“Tembang dolanan merupakan salah satu dari sekian banyak metode pembelajaran Sariswara yang diciptakan oleh Ki Hadjar Dewantara. Menggabungkan tiga pelajaran kesenian, bahasa indah (sastra), lagu/tembang, dan cerita. Gabungan ketiga pelajaran ini diyakini Ki Hadjar Dewantara mampu melandasi watak anak suka akan keindahan dan kehalusan sebagaimana watak dari sebuah kesenian,” kata Cak Lis, Pimpinan Laboratorium Sariswara Tamansiswa kepada krjogja.com, Selasa (22/12/2020).

Dijelaskan Cak Lis, bekerjasama dengan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud RI, melalui Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) tahun 2020, Laboratorium Sariswara didukung Tim teknis Arutala meluncurkan ARTDA 1.0, Senin.(21/12/2020). Peluncuran ini menggunakan metode daring, dengan mengundang segenap pemangku dan stakeholder kepentingan pendidikan baik regional, nasional, bahkan beberapa tamu berasal dari luar negeri. Diantaranya Dr JC Wang dari Northern Illinois University USA, Dr Gillian Irwin dari DC Davis, California USA dan Dr M Arif Rokhman – Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI London.

Acara ini diawali dengan penjelasan tentang teknologi Augmented Reality (AR) dari Tim Arutala, dilanjutkan penjelasan Metode Sariswara berikut kaitannya dengan teknologi AR dari Lab Sariswara oleh Cak Lis. Sambutan pengantar dari Ki Priyo Dwiarso sebagai sesepuh Perguruan Tamansiswa. Ki Priyo Dwiarso menyampaikan perlunya Metode Sariswara dijadikan mata pelajaran seni yang bisa diimplementasikan di seluruh nusantara dengan menyesuaikan kearifan lokal masing-masing daerah. “Utamanya permainan tradisional anak daerah yang memakai lagu/tembang/ seni tutur,” ujarnya.

BERITA REKOMENDASI