Astuti Kusumo, Keluar Kerja Demi Melukis

Editor: Ivan Aditya

MENGAMBIL keputusan butuh pemikiran matang dan jernih. Tidak bisa gegabah. Karena terkait kelangsungan hidup selanjutnya. Tak mengherankan banyak yang gamang saat berada di situasi seperti itu. Astuti Kusumo salah satu yang pernah merasakan.

Pemilik nama lengkap Raden Roro Sri Yuwanti Kusumo Astuti SE itu mengatakan pekerjaan kantor bisa menjadi sandaran hidup, namun di sisi lain ada tuntutan batin yang terus mendera. “Ada kegelisahan yang tidak bisa saya kendalikan. Saya pikir ada satu yang harus saya lakukan. Keinginan terus melukis kuat sekali. Akhirnya saya mengundurkan diri dari kantor, fokus melukis,” kata Astuti yang juga sebagai Ikatan Pelukis Indonesia (IPI) Yogyakarta.

Putri KRT Kastur Cokronagoro-Widiastuty ini sangat menikmati ‘kebebasannya’ tersebut. Terlebih keluarga, terutama orangtua dan anak-anak, menghargai dan mendukung keputusannya. Mereka senang karena Astuti jadi banyak punya waktu di rumah. Ia bisa merawat bapak ibunya.

Realitas empirik tersebut dianggap sebagai pengalaman batin luar biasa yang sangat excited. Karena benak telah terplot sistem kerja teratur, pun bertipe pekerja yang selalu mengusung kesempurnaan, Astuti tetap menerapkan waktu seperti ketika bekerja di luar (kantor).

“Melukis tidak harus menunggu mood datang. Saya tahu kapan harus berhenti melukis, harus melakukan pekerjaan rumah tangga lain. Umbah-umbah, misalnya. Jadi saya semakin happy,” papar sarjana ekonomi UPN Veteran Yogyakarta itu.

Melukis sejak kecil. Bakatnya tidak main-main. Tahun 1985, usia 15 tahun, Astuti sudah ikut pameran keliling ASEAN Children Exhibition. Puluhan penghargaan, bukti nyata potensi Astuti sebagai pelukis. Namun karena sibuk pekerjaan, hobi otodidaknya itu tak bisa dijalankan intens. Tujuh tahun ini baru benar-benar memuasi keinginan batin.

Hidup adalah takdir. Dan seperti kredo vokalis Queen: Freddie Mercury, Astuti menjalani takdirnya saat ini: menjadi pelukis.

Pernah pameran tunggal Ugemi (2019), Yogyakarta Gemati (2019), Dalan Padhang (2018), Seratan Luru Raos (2017). Dan puluhan kali ikut pameran bersama.

Pameran Akbar #2 yang dibuka Dirut BPD DIY Dian Ariani termasuk mengesankan bagi Astuti. Karena ia bisa menghadirkan pelukis senior seperti Djoko Pekik, Kartika Affandi, Nasirun. Bahkan mengundang akademisi yang melukis bagus dan produktif. Seperti Prof Al Makin (Rektor UIN Yogyakarta), Prof Baiquni, DR Hajar Pamadhi.

“Pertemuan artistik dan ajang silaturahmi, pemersatu para pelukis berbagai daerah di Indonesia dalam satu tujuan, yaitu bergeraknya senirupa ke arah yang lebih baik di masa depan,” terang Astuti yang juga aktif di Paguyuban Sekarjagad, Krida Beksa Wirama Ambarrukma, serta bendahara Asosiasi Perupa Indonesia.

Menurut Astuti, tema Obah Owah sebagai satu harapan dari pemikiran positif dan penuh optimisme terhadap satu gerak, sebagai satu energi menuju perubahan lebih baik. Juga sebagai pertanda kemampuan beradaptasi para perupa dalam menghadapi masa pandemi Covid-19.

Rekam jejak dan kiprah perempuan pelukis yang tinggal di Jalan Ngeksigondo Kotagede Yogyakarta ini, merupakan antologi kejeniusan dan keberanian yang akan bermuara menjadi magnum opus.

Diungkap pengarang Jerman Johann Wolfgang von Goethe, “Apapun yang bisa dilakukan atau diimpikan, lakukan dan mulailah. Keberanian mempunyai kejeniusan, kekuatan, dan keajaiban dalam dirinya.”

Astuti Kusumo amsal empirik pemilik keberanian dan kejeniusan, yang akhirnya melahirkan ‘kekuatan’ di kancah seni. (Latief Noor Rochmans)

BERITA REKOMENDASI