Atasi Covid-19, Sultan HB X Percepat Vaksinasi di DIY

YOGYA, KRJogja.com – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X akan terus berupaya melakukan akselerasi vaksinasi Covid-19 di wilayah DIY.

 

Hal tersebut disampaikan Sri Sultan saat menanggapi arahan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) Luhut Binsar Panjaitan, dalam Rapat Koordinasi Percepatan Vaksinasi Covid-19 baru-baru ini secara daring.

 

Dari jumlah suntikan 10.000 orang per hari, Sri Sultan akan mengupayakan agar target peserta vaksinasi dapat mencapai 20.000 per hari. “Untuk total masyarakat DIY yang sudah divaksin, sudah mencapai sekitar 1.398.000 orang,” ujar Sri Sultan saat mengikuti rapat dari Gedhong Pracimosono, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

 

Di sisi lain, Ngarsa Dalem menyoroti kebijakan pusat soal pemberian vaksinasi Covid-19 bagi anak-anak dan ibu hamil. “Di DIY, kategori anak berusia 12-17 tahun ada sekitar 339ribu orang. Jumlah ini yang mungkin menjadi perhatian dari pemerintah pusat,” ujar Ngarsa Dalem.

 

Sementara itu, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin dalam kesempatan yang sama mengatakan bahwa pihaknya baru akan mengeluarkan juknis terkait program vaksinasi bagi anak-anak usia 12-17 tahun dan ibu hamil per Rabu (30/06). “Kami akan upayakan supaya juknis dapat dikeluarkan hari ini, sehingga dapat langsung didistribusikan ke daerah-daerah untuk disesuaikan pelaksanaannya,” ujarnya.

 

Menteri Budi juga mengatakan bahwa pelaksanaan vaksinasi di daerah-daerah harus diawasi dengan ketat agar tidak menimbulkan kerumunan. “Teknis pelaksanaan vaksinasi di daerah harus diatur dengan efisien, agar tidak menimbulkan kerumunan,” terang Menteri Budi.

 

Upaya percepatan vaksinasi ini juga menjadi poin yang ditekankan Menteri Luhut pada rapat koordinasi penanganan Covid-19 yang digelar sehari sebelumnya, Selasa (29/06). “Saat ini, yang penting adalah keselamatan masyarakat kita letakkan di atas segalanya. Gubernur yang paling tahu wilayahnya seperti apa, jadi sangat penting untuk kita dapat informasi dari mereka. Saya berharap semua bisa bekerja cepat dan tepat namun terorganisir dan sinergis demi masyarakat,” terang Menteri Luhut.

 

 

 

Pada agenda tersebut, Menkomarves juga mengumpulkan kepala daerah se-Jawa dan Bali untuk menyampaikan data, saran, serta, permasalahan di wilayah masing-masing terkait penanganan Covid-19. Agenda ini dimaksudkan agar kebijakan selanjutnya yang diambil pemerintah pusat dapat berjalan sesuai harapan.

 

Sementara itu, ditemui seusai rapat akselerasi vaksinasi, Kepala Dinas Kesehatan DIY, Pembajun Setyaningastutie, mengatakan bahwa teknis pelaksanaan vaksinasi bagi anak-anak sudah teragenda. “Meski demikian, vaksin yang akan dipergunakan masih proses didatangkan. Kami juga sudah koordinasi dengan Kepala Disdikpora DIY,” ujar Pembajun.

 

Menurutnya, kendala terbesar pemberian vaksin anak-anak adalah mereka yang berada di sektor non-formal. “Kalau yang usia 12-17 tahun dan ada di pendidikan formal, itu lebih mudah karena kita selalu memakai bulan imunisasi. Yang menjadi masalah adalah yang tidak berada di pendidikan formal,” jelas Pembajun.

 

Lanjut Pembajun, untuk akselerasi vaksin anak-anak, akan diprioritaskan bagi anak-anak dari sektor formal terlebih dulu. “Kita cobakan dengan yang formal dulu nanti, mana faktor risiko yang lebih besar dulu lalu kita tindaklanjuti,” urainya. Ia berharap, adanya sinergi dari OPD seperti Dinas Sosial akan membantu percepatan pelaksanaan vaksinasi bagi anak-anak dari sektor nonformal. “Misalnya Dinas Sosial (DIY) bisa mengumpulkan anak-anak itu, misal yang dari panti, atau dari jalan, yang mungkin lebih sulit,” tukas Pembajun.

 

Di sisi lain, terkait penambahan tenaga kesehatan di RS Rujukan Covid-19, ia mengatakan telah berkoordinasi dengan Poltekkes agar peserta didik yang telah lulus, dapat dilatih sebagai tenaga kesehatan penanganan pasien Covid-19 dan vaksinator. “Harapannya setelah lulus bisa langsung membantu, tidak perlu harus menunggu wisudanya,” kata Pembajun.

 

 

 

Tak hanya itu, Pembajun juga terbuka jika sekiranya ada masyarakat yang tergerak untuk menjadi relawan yang membantu teknis administrasi pendataan di RS Rujukan Covid-19 DIY. “Sebenarnya, relawan yang tidak ada basis ilmu kesehatan bisa membantu membuat data atau laporan harian. Atau bisa juga membantu mengecek suhu tubuh dan tensi. Tinggal kabupaten/kota bergerak untuk bisa merekrut relawan-relawan ini,” tutupnya. (*)

 

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI