Banjaran Gatotkaca, Kesaktian Ditundukkan Oleh Kejujuran

YOGYA, KRJOGJA.com – Lakon Banjaran Gatotkaca yang akan dimainkan Dalang Ki Seno Nugroho dalam pentas wayang kulit HUT ke-72 SKH Kedaulatan Rakyat, Sabtu (23/9/2017) malam ini di halaman Percetakan KR di Jalan Solo Km 11 Berbah Sleman Yogyakarta, akan diwarnai berbagai intrik dan perselisihan antara pihak Kurawa dan putra-putra Pandawa. Bahkan perselisihan telah merambah sampai generasi ketiga, yakni cucu-cucu Pandu Dewanata dan Dewi Kunti.

Di antara generasi ketiga Pandu tersebut, Gatotkaca sebagai putra Werkudara berperan besar dalam upaya meminta kembali Negeri Astina dari rengkuhan pihak Kurawa. Berbagai upaya juga dilakukan Dewi Gendari dan Sengkuni agar tahta Astina bisa diduduki anak-anak Kurawa.

"Sebagai anak Werkudara, Gatotkaca memang sakti dan bisa mrantasi gawe. Tetapi ia kadang tidak bisa mengendalikan emosinya," kata Ki Seno, Jumat (22/9/2017).

Menurut Ketua Panitia HUT ke-72 Kedaulatan Rakyat, Baskoro Jati Prabowo SSos, pergelaran wayang kulit ini antara lain didukung PT Bank BPD DIY. Selain untuk tamu undangan, pergelaran wayang kulit ini juga terbuka untuk masyarakat dan gratis.

Seno Nugroho mengungkapkan, dalam lakon Banjaran Gatotkaca ini ada empat momentum yang cukup menonjol. Yakni ketika Gatotkaca lahir, ketika ia menemani Abimanyu melamar Dewi Utari dalam lakon Kalabendana Lena, ketika dinobatkan sebagai Raja Pringgandani dan ketika Perang Baratayuda.

"Inti lakon ini, kesaktian Gatotkaca dapat ditundukkan oleh kejujuran Kalabendana," jelasnya.

Disebutkan, ketika lahir Gatotkaca sudah membuat heboh dan dimasukkan Kawah Candradimuka, sampai akhirnya ia mendapatkan Aji Narantaka. Gatotkaca kemudian melakukan kecerobohan ketika menghajar Kalabendana, sampai pamannya itu meninggal. Namun sebelum meninggalkan Gatotkaca, Kalabendana bersumpah tidak akan ke swargaloka kalau tanpa Gatotkaca.  

"Kalabendana kemudian berjanji akan menunggu kemenakannya itu di swarga pangrantunan. Dalam perang besar Baratayuda, ketika dipanah oleh Adipati Karna, Gatutkaca bisa melesat terbang tinggi, sampai akhirnya ia ditangkap oleh Kalabendana. Di situlah Kalabendana kemudian menunaikan sumpahnya," urai Ki Seno.(Cil)

BERITA REKOMENDASI