Banjir Hoax, Kominfo Keluarkan Jurus dari Hulu Ke Hilir

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Banjir informasi baik itu berita benar dan valid hingga adanya hoax merupakan tantangan besar di era transformasi digital saat ini di Indonesia. Melihat kondisi tersebut, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengeluarkan strategi dari hulu ke hilir mulai dengan edukasi literasi digital, pendampingan berkelanjutan oleh komunitas dan peneggakan hukum.

Kasubdit Informasi dan Komunikasi Sosial Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Helmi Malik Bou mengatakan disamping banyak melakukan sosialisasi bijak bermedia seperti di DIY ini, pihaknya tentu banyak menerapakan berbagai macam cara baik edukasi via forum langsung maupun media sosial dan media elektronik. Dalam berbagai kesempatan, Kemenkominfo sepakat bersama-sama memberantas hoax dan bekerjasama dengan komunitas blogger-blogger untuk meningkatan literasi via media sosialnya.

"Kami menghimbau dan mengajak masyarakat memerangi menjamurnya hoax atau kabar bohong. Indonesia tidak bisa dibangun dengan kebohongan maka perlu peningkatan adanya literasi media sosial untu memberantas hoax," ujar Helmi usai membuka  Forum Diskusi Publik: Bijak Bermedia Sosial Untuk Indonesia Maju yang didukung Kirab Pemuda Kota Yogyakarta di Ruang Borobudur Grand Inna Malioboro, Kamis (25/10).

Setelah dibuka secara resmi oleh Helmi, diskusi tersebut menghadirkan tiga pembicara utama yaitu Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Kemenkominfo Gun Gun Siswadi, Asisten Deputi Peningkatan Kreatifitas Pemuda Kemenpora Djunaedi dan Kepala Balai TekKomDik Disdikpora DIY Isti Triasih. Sedangkan untuk penindangaan atau pelanggan yang dikenakan UU ITE  menjadi ranah pihak kepolisiaan terhadap pelanggaran tersebut. Pihaknya selama ini dilibatkan sebagai tenaga ahli apabila terjadi pelanggaran terkait UU ITE.

"Hoax sebenarnya sangat banyak, satu ditangani muncul kabar bohong yang baru lagi. Data yang terkena kasus pelanggaan UU ITE tersebut dipegang pihak kepolisiaan. Informasi yang sakit ini harus diobati, apalagi informasi sakit yang beredar," imbuhnya.

Kementerian Kominfo ingin membangkitkan masyarakat yang Pancasila sehingga hal yang terkait penipuan, kebohongan, hoax dan sebagainya harus ditangani," imbuh Helmi. Pihaknya sangat menyayangkan kemerdekaan Indonesia yang didapatkankan dengan pengorabanan jiwa raga harus hancur atau terpecah belah hanya karena adanya hoax.  

"Akibat memperjuangkan sisi kelompoknya mengkristal menjadi ujaran kebenciaan atau kabar bohong demi kepentingan kelompok yang kecil sangatlah tidak benar. Kita harus luruskan dan kembalikan ke relnya untuk bersama-sama membangun bangsa tentunya generasi muda sebagai garda terdepan," tandas Helmi.

Staf Ahli Menteri Bidang Komunikasi dan Media Massa Kemenkominfo Gun Gun Siswadi menekankan pihaknya mendorong agar siapapu yang memberikan informasi haruslah yang bermanfaat bukan malah memecah belah bangsa. Memasuki transformasi era digital ini, dimensi tantangan akan semakin berat seperti adanya volatile,  uncertain, complex dan ambigious atau outside the box sehingga masyarakat perlu melek media digital

"Warga khususnya generasi muda harus mampu berpikir kritis tehadap semua content yangbada di media digital, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk dapat memanfaatkan kebebasan berinformasi ini secara baik dan menyadari pentingnya beretika di media jejaring sosial. Media sosial berfungsi sebagai sarana komunikasi, sumber informasi, peluang usaha, membangun relasi dan komunitas" jelas Gun Gun. (Ira)

 

 

BERITA REKOMENDASI