Bank Mata Yogya Berhasil Cangkok Kornea

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Di penghujung Ramadan kemarin, seseorang berhati mulia berkenan mendonorkan kornea matanya setelah meninggal dunia untuk kepentingan kemanusiaan. Hal ini menjadi secercah harapan untuk memecahkan masalah ketidaktersediaan donor kornea di Indonesia.

Perkumpulan Penyantun Mata Tunanetra Indonesia (PPMTI)-Bank Mata Yogyakarta sebagai institusi yang memiliki kapasitas dan kapabilitas, ditunjuk untuk melaksanakan tugas mulia ini. Pada, Jumat (23/6/2017) lalu telah dilakukan operasi cangkok kornea oleh tim dokter (sie teknik medik PPMTI-Bank Mata Yogya) beranggotakan Prof dr Suhardjo SU SpM(K), dr Agung Nugroho SpM, dr Tri Winarti serta seluruh tim pendukung dengan hasil memuaskan.

Kornea pasien penerima donor bisa kembali bening dan tajam serta penglihatan berangsur-angsur membaik. Hasil memuaskan ini menjadikan penyemangat bagi tim dokter maupun bagi masyarakat yang hendak menjadi calon donor kornea.

Dokter mata konsultan kornea, infeksi dan imunologi Fakultas Kedokteran UGM Prof dr Suhardjo SU SpM(K) mengatakan, donor lokal merupakan harapan yang sangat bagus untuk mengatasi dan menatalaksana kebutaan kornea. Donor lokal memiliki kemiripan yang sangat dekat secara imunologis dan reaksi seluler. "Dengan demikian keberhasilan cangkok kornea diharapkan mendekati kesempurnaan," terang Prof Suhardjo kepada KRjogja.com, Rabu (28/6/2017).

Dijelaskan Prof Suhardjo, secara teknis, sebenarnya tidak ada masalah dalam pelaksanaan operasi cangkok kornea ini. Operasi ini dilakukan dengan cara menghilangkan bagian yang buram dari kornea pasien (resipien) dan menggantinya dengan bagian kornea yang jernih dari donor kornea kemudian dijahitkan ke kornea yang masih sehat. Dengan kata lain, operasi ini layaknya mengganti 'kaca' depan yang buram dengan 'kaca' yang jernih. "Harapannya adalah terjadinya visual recovery atau rehabilitasi penglihatan sepanjang tidak ada masalah di segmen posterior," katanya.

Terlepas dari kemudahan dan kemampuan melakukan operasi pencangkokan kornea, namun pelaksanaannya masih terkendala ketersediaan donor kornea. Bila berkaca dari negara Nepal (sama sama negara berkembang, yang mungkin pendapatan per kapita nya lebih rendah daripada Indonesia), ketersediaan donor kornea di Indonesia sangatlah sedikit. Nepal Eye Bank dalam satu tahun dapat menyediakan setidaknya 700 donor kornea.

Prof Suhardjo mengajak khalayak untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran berkolaborasi bersama sama menanggulangi kebutaan kornea. Salah satu langkah nyata untuk menganggulangi kebutaan kornea dengan bersedia menjadi donor kornea. "Semoga cerita keberhasilan operasi pencangkokan kornea di RSUP Dr Sardjito beberapa hari lalu semakin menggugah kesadaran kita untuk bisa saling berbagi, bersama sama menanggulangi kebutaan kornea. Bersama kita bisa," pungkas Prof Suhardjo. (Dev)

BERITA REKOMENDASI