Bantuan Tak Tumpang Tindih, DIY Intensifkan Konsolidasi

YOGYA, KRJOGJA.com – Cuaca panas yang terjadi pada beberapa minggu terakhir menjadi indikator bahwa wilayah DIY masih masuk dalam musim kemarau. Dampak dari adanya musim kemarau tersebut menjadikan sejumlah daerah di DIY, seperti Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Sejumlah upaya telah dilakukan oleh Pemda dengan dukungan pihak terkait untuk mengatasi persoalan tersebut. Diantaranya dengan melakukan dropping air bersih.

"Berdasarkan data yang ada sebagian besar wilayah DIY sudah lebih dari 60 hari (2 bulan) tidak ada hujan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa akhir Juli sampai Agustus merupakan puncak musim kemarau. Sementara  suhu tertinggi di wilayah DIY tercatat 33 derajat Celcius sedangkan suhu terendah 20 derajat Celcius. Dalam menyikapi kondisi ini, saya minta kepada masyarakat untuk melakukan penghematan air dan lebih cermat dalam memilih jenis tanaman," kata Kepala Operasional Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Djoko Budiyono MSi kepada KRJOGJA.com di Yogyakarta, Senin (18/9/2017).

Sementara itu saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Senin (18/9/2017), Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi menjelaskan, untuk mengatasi kekeringan dan kesulitan air bersih pihaknya mencoba mengatasi dengan melakukan dropping air bersih. Kebanyakan daerah  yang mengalami kekeringan tersebut, berada di bagian selatan Gunungkidul dan tidak memiliki sumber air. Berdasarkan laporan dan data yang ada kekeringan itu terjadi di 122 pedukuhan yang terletak di 8 kecamatan, seperti di Girisubo, Tepus, Rongkop.

"Sebenarnya kami sudah mencoba melakukan penggalian di daerah yang mengalami kekeringan tersebut. Namun hingga penggalian 200 meter tidak ditemukan sumber mata air. Melihat kondisi tersebut kami memutuskan untuk melakukan  dropping air," terang Immawan.

Lebih lanjut Immawan menambahkan,selain dari pemerintah, bantuan air bersih juga didapatkan dari pihak swasta. Bahkan saat ini jumlahnya sudah ada 400 tangki yang berasal dari pengusaha dan perbankan.

Guna memudahkan pendistribusian stok air, pihaknya selalu berkoordinasi dengan BPBD. Apabila dilihat dari bantuuan air bersih yang ada, pihaknya optimis bisa mencukupi  hingga akhir musim kemarau yang diprediksi pada November mendatang.

"Memang BMKG memprediksikan pada Oktober sudah ada beberapa daerah di Gunungkidul mulai turun hujan. Tapi karena hujannya belum merata, kami tetap melakukan antisipasi sampai November," ungkap Immawan, seraya menambahkan, sebenarnya ada beberapa sumber air yang bisa digunakan, seperti di Giri Panggung, dilaporkan oleh lurah setempat bahwa ada sumber mata air namun karena ada kepercayaan di masyarakat perihal mistis, sumber mata air tersebut tidak diguna. (Ria)

 

BERITA REKOMENDASI