Banyak Manuskrip Kraton Yogyakarta Tersimpan di British Library

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sejak peristiwa Geger Sepehi (penyerbuan pasukan Inggris ke Kraton Yogyakarta) tahun 1812, Kraton Yogyakarta banyak kehilangan naskah-naskah kuno (manuskrip) berisi berbagai ajaran leluhur, karena dibawa ke Inggris. Setelah ditelusuri, banyak manuskrip kuno milik Kraton Yogyakarta yang hilang tersebut tersimpan di British Library.

Melalui upaya pembicaraan dan kerja sama yang dijalin Raja Kraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dengan British Library, sedikit demi sedikit manuskrip tersebut mulai diserahkan ke pihak Kraton dalam bentuk digital. “Ini menjadi titik awal mengembalikan semua manuskrip (digital) milik Kraton Yogyakarta yang ada di British Library maupun manuskrip kuno yang tersebar di berbagai belahan dunia,” terang Pengageng Kawedanan Hageng Punokawan (KHP) Nitya Budaya GKR Bendara yang membawahi bidang manuskrip dan permuseuman Kraton Yogyakarta.

Selain di British Library, banyak manuskrip kuno milik Kraton yang tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden Belanda. GKR Bendara mengatakan, untuk tahap awal ini pihak Kraton mendapatkan 75 manuskrip digital dari British Library.

Salah satu yang paling penting adalah manuskrip berjudul ‘Teaching of Sultan HB I’ (400 halaman) yang banyak menceritakan tentang pemerintahan di masa Sultan HB I, serta ajaran filosofi hidup orang Jawa zaman dahulu. “Ajaran hidup yang ada dalam manuskrip itu yang penting,” ujarnya.

Dijelaskan Bendara, beberapa manuskrip digital dari British Library akan dipamerkan dalam Pameran Naskah Kraton Yogyakarta, di Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta pada 7 Maret-7 April 2019, sekaligus menjadi puncak rangkaian kegiatan Peringatan Tingalan Jumenengan Dalem atau ulang tahun ke-30 Kenaikan Tahta Sri Sultan HB X. Selain manuskrip digital, juga akan dipamerkan naskah-naskah fisik warisan Sri Sultan HB V seperti babad, serat dan cathetan warni-warni dari Perpustakaan Kraton, KHP Widyabudaya.

"Jadi nanti akan dipamerkan 30 naskah kuno asli milik Kraton, beberapa manuskrip digital dari British Library serta berbagai koleksi dari Bebadan Museum Kraton untuk mendukung visualisasi naskah,” tutur putri bungsu Sultan HB X ini.

Penanggung Jawab Pameran KRT Thomas Haryonagoro mengatakan, manuskrip digital lain dari British Library yang akan dipamerkan adalah manuskrip Babad Ngayogyakarta (HB I-HB III) yang menceritakan sejarah Yogyakarta dimulai dari pembagian daerah kekuasaan dengan Surakarta (Perjanjian Giyanti 1755), kilas pemerintahan HB I (1755-1792) hingga jatuhnya Kraton Yogyakarta ke Inggris tahun 1828.

Ditampilkan juga manuskrip Serat Jayalengkara Wulang (439 halaman) berbahasa dan beraksara Jawa yang ditulis tahun 1803. Serta Serat Jayalengkara Wulang berisi ajaran budi pekerti melalui metafora tokoh cerita panji, Raden Jayalengkara. Sebelum pameran, diadakan Simposium Internasional ‘Budaya Jawa dan Naskah Kraton Yogyakarta’pada 5- 6 Maret di Grand Ballroom Royal Ambarrukmo.

Penanggung Jawab Simposium GKR Hayu mengatakan, pembicara simposium antara lain Peter Carey (sejarawan, peneliti budaya Jawa), Annabel Teh Gallop (kurator, perwakilan British Library), Roger Vetter (peneliti gamelan Jawa dari Amerika Serikat sejak 1970-an), serta akademisi dari berbagai universitas. (Dev)

BERITA TERKAIT