Banyak Proyek Tutup, Usaha Penggergajian Glugu Merana

Editor: KRjogja/Gus

USAHA jual-beli dan penggergajian kayu kelapa atau glugu termasuk yang kena dampak wabah virus corona. Alasannya antara lain banyak proyek pembangunan ditunda ataupun dihentikan dahulu. Wajar jika akhirnya omset penjualan usuk, blandar, reng maupun suri-suri (penyangga papan cor) terbuat dari glugu banyak mengalami penurunan.

“Karena pemasukan mengalami penurunan, maka saya perlu menerapkan beberapa jurus atau memutar otak agar usaha ini tetap bisa berjalan,” ungkap salah satu pemilik usaha jual-beli dan penggergajian kayu kelapa Hermanta, baru-baru ini.

Ditemui di lokasi usahanya kawasan Godean Sleman, bapak dari empat anak ini menjelaskan, sejak menurunnya tingkat penjualan produk-produk dari kayu glugu terpaksa menghentikan dahulu proses penggergajian kayu kelapa (glugu) masih glondhongan untuk dibuat menjadi blandar, usuk, reng maupun suri-suri. Sehingga selain menjual stok-stok yang masih ada, bisa juga kulakan dari lokasi pengergajian kayu yang sudah besar. Ia pun terpaksa mengurangi jumlah karyawannya yang tadinya empat, sekarang tinggal satu.

“Suatu saat kalau keadaan sudah benar-benar normal dan penjualan semakin baik, bisa melakukan penggergajian glugu glondhongan sendiri lagi dan menambah karyawan lagi,” jelasnya.

Ditambahkan, kualitas produk-produk dari kayu glugu sangat dipengaruhi oleh umurnya pohon kelapa. Semakin tua pohon kelapanya, akan semain bagus kualitas kayunya. Idealnya pohon kelapa sudah berumur dari 30 tahun. Tanah untuk tumbuhnya pohon kelapa pun ikut menentukan, dan yang bagus yaitu tanah liat (lempung) berpasir ataupun tanah berpasir. Daerah Seyegan ke utara, termasuk sebagian Tempel, bahkan kawasan Temanggung diyakini termasuk tanah yang baik untuk pohon kelapa.

BERITA REKOMENDASI