Banyaknya Guru Akan Pensiun Bisa jadi ‘Ancaman’

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Banyaknya guru yang akan pensiun dapat menjadi ‘ancaman’ bagi upaya menjaga mutu pendidikan DIY yang sudah berada di atas rata-rata sejumlah negara tetangga. Berdasarkan data Kemendikbud, tercatat saat tahun 2018, terdapat 5.892 guru yang pensiun dalam 5 tahun mendatang terhitung dari tahun tersebut.

Menurunnya jumlah guru karena banyak yang pensiun, dikhawatirkan oleh Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, M Afnan Hadikusumo. Anggota dari Dapil DIY tersebut melihat persoalan banyaknya guru yang akan pensiun hendaknya bisa diatasi.

Baca juga :

Desain Tol Yogya Berpeluang Diubah, Simpang Monjali Bakal Hilang
Malioboro Bakal jadi Kawasan Bebas Rokok

Menurut Afnan, problematika tenaga pendidik di Indonesia pada umumnya dan DIY pada khususnya sangat kompleks. Pertama berkaitan dengan kualitas, kedua kesejahteraan guru dan ketiga pemerataan tenaga pendidik. Hal yang dialami saat ini berkaitan dengan makin berkurangnya tenaga pendidik akibat pensiun dan meninggal dunia, maka langkah yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah menambah jumlah tenaga pendidikan dengan mengangkat guru-guru honorer menjadi PNS.

Selain itu bisa juga dengan masa usia pensiun dalam waktu tertentu sampai tersedianya guru pengganti. Juga bisa dilakukan dengan model kerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki jurusan pendidikan agar mahasiswanya yang menjelang lulus dapat melakukan pengabdian di sekolah-sekolah yang membutuhkan selama setahun.

Menanggapi soal berkurangnya guru tersebut, Kabid Perencanaan dan Penjaminan Mutu Dinas Dikpora DIY, Didik Wardaya mengungkapkan, meski banyak guru yang akan memasuki masa pensiun, namun pihaknya yakin jumlah guru yang tersedia masih bisa mencukupi, khususnya kebutuhan per pelajarannya.

”Sebetulnya ketersediaan guru di DIY cukup. Meski memang per jurusan dan mata pelajaran ada yang kurang dan ada yang lebih,” ujarnya.

Meski demikian, Didik berharap jumlah guru akan ditambah oleh pemerintah pusat. Sehingga ketersediaan guru di DIY bertambah. Terkait menjaga mutu pendidikan DIY, menurut Didik butuh upaya semua pihak untuk menjaganya.

Posisi DIY yang berada di atas rata-rata nasional, di atas DKI serta di atas sejumlah negara ASEAN perlu dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Karena itu Dinas Dikpora bersama dengan instansi terkait akan berusaha menjaga dan meningkatkannya.

Terpisah, Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Sofyan mengapresiasi atas perjuangan Pemda DIY dalam bidang pendidikan, sehingga mampu menempatkan mutu pendidikan DIY pada posisi unggul, sesuai laporan PISA. Namun dibalik kesuksesan tersebut terdapat tantangan yang harus dihadapi di kemudian hari, yakni bagaimana menjadikan semua capaian tersebut tidak berhenti pada hal yang bersifat tekstual semata tetapi juga terejawantahkan dalam dataran praksis yang berdaya guna dalam kehidupan keseharian.

“Bahan bacaannya menjadikan generasi kita memiliki karakter kepribadian budi pekerti luhur, kemampuan matematikan dan sains menghasilkan karya nyata dalam menunjang kemajuan peradaban dengan menjadi produsen yang menciptakan pasar bukan hanya sebagai konsumen dan menjadi pasar bagi bangsa lain,” ujar Sofyan.

Dikemukakan Sofyan, Komisi D DPRD DIY siap berperan aktif dalam mendorong capaian kapasitas dan integritas anak bangsa yang mampu segera mengenali jati diri dan potensinya sehingga mampu bersaing secara tangguh cepat dan tepat dalam pengembangan diri serta berkontribusi dalam kemajuan peradaban. “Untuk memetakan lebih detil saya kira Disdikpora DIY perlu melakukan survei secara langsung juga tentang jumlah buku yang dibaca oleh tiap siswa dalam satu bulan, buku apa saja yang dibaca,” ujar Sofyan. (Jon)

BERITA REKOMENDASI