Batik Jumputan Berkembang ke Motif Flora dan Fauna

YOGYA, KRJOGJA.com – Batik Jumputan memang identik dengan motif bulat atau kotak dengan teknik pewarnaan putih diantara warna-warna cerah kain batik, mengembangkan teknik menjumput dengan jahit jelujur serta mampu mengeksplore kreatifitas kini para perajin justru mampu membuat motif batik yang terinspirasi dari flora juga fauna.

"Sekarang hampir semua perajin di daerah Celeban, Tahunan mengembangkan pembuatan batik jumputan dengan motif yang lebih beragam, kalau dulu itu seringkali hanya bulat atau kotak. Saat ini pembuatan batik juga lebih variatif dengan warna yang lebih beragam," ujar Ngatmini Budiyono salah satu perajin batik jumputan di daerah Celeban, Tahunan Yogyakarta, Senin (22/1/2018).

Dijelaskannya,dalam pembuatan batik jumputan motif flora dan fauna seperti daun, bunga, burung, dan ikan perajin menggunakan teknik jahit jelujur. Ngatmi menjelaskan dengan mengeblat pada gambar sebagai cetakan kemudian motif dibuat dengan cara dijahit usai dilakukan penjahitan untuk memunculkan model jumputannya kain lalu diikat dan ditarik serut sebelum dilakukan pewarnaan.

"Usai diserut dan semua sudah dibatik, proses selanjunya yaitu proses pewarnaan. Untuk pewarnaan ada dua macam yakni dengan pewarna alami dan sintetis, batik jumputan khas Yogyakarta memiliki karakter lebih mencolok dibanding daerah lain karena pewarnaanya bisa satu, dua, hinngga gradasi tiga warna itulah cirikhasnya," imbuhnya.

Perpaduan berbagai warna atau disebut gradasi warna juga bukan perkara mudah, pasalnya dalam proses pewarnaan tersebut teknik pencelupan harus dilakukan dengan beberapa kali penyelupan dan teknik buka tutup batik jumputan. Perbedaan mendasar dengan gradasi warna tersebut yang warna mencolok menjadikan pembeda bagi kain batik jumputan buatan Yogyakarta dibanding daerah lain.

"Kalau batik jumputan daerah lain cenderung dengan teknik jahit tidak dengan diikat serta penggunaan satu warna pada kain sehingga proses pembuatannya lebih mudah dan lebih cepat. Meski demikian untuk pewarnaan sendiri bahan yang digunakan pun sama untuk warna yang lebih terang perajin menggunakan pewarna sintetis sementara untuk warna-warna yang lebih sederhana biasanya menggunakan pewarna alami dari dedaunan dan kayu-kayuan,"katanya.

Penggunaan bahan pewarna alami karena proses yang lebih rumit sendiri akan berpengaruh pada lama pembuatan juga harga jual kain batik jumputan. Jika dengan mengunakan pewarna sintetis proses membatik hanya memerlukan waktu dua hingga tiga hari, menggunakan pewarna alami prosesnya bisa mencapai delapan hingga dua minggu.  Tingkat keawetan warna juga kata Ngatmi justru lebih bisa bertahan lama dengan pewarna sintetis. "Jadi memang sekarang banyak digunakan pewarna sintetis selain lebih murah, hasil warna lebih cerah, juga warna lebih awet tidak mudah pudar. pewarna sintetis digunakan untuk membua warna gradasi juga lebih bagus," jelasnya.

Dengan harga Rp 100.000 hingga Rp 600.000 kain batik jumputan ukuran 2,5m x 1,25m karya perajin dari daerah Yogyakarta selain banyak dijual diwilayah DIY, kini penjualan juga sudah banyak menembus pasaran luar daerah seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga Batam. (*-3)

 

BERITA REKOMENDASI