Bedah Buku Pendidikan Multikultural dalam FFPJ #10

YOGYA, KRJOGJA.com – Dalam rangka memeriahkan Festival Film Pelajar Jogja #10, digelar program Bedah Buku Pendidikan Multikultural di Sekolah Tinggi Ilmu Psikologi pada Sabtu (14/12). Program bedah buku ini mengundang Ainul Yaqin, M.Ed., Ph.D yang merupakan penulis buku Pendidikan Multikultural sendiri serta Hari Sutantya sebagai pembahas. 

"Buku ini ditulis pada tahun 2005 selepas studi S2 saya di Amerika. Tulisan saya ini terinspirasi dari pidato Malik Fadjar yang punya ide agar multikulturalisme dapat menjadi metode untuk menangani problematika sosial kultural, ekonomi, politik bahkan juga agama. Selain itu, alasan saya menulis buku ini juga karena situasi dan kondisi Indonesia yang memang multikultur. Maka menurut saya pendidikan multikultur penting untuk dimasukkan kurikulum," buka Ainul Yaqin yang juga merupakan Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 

Sesuai judul buku yang dibedah, acara hari ini dihadiri oleh peserta yang multikultur. Ada 12 orang finalis Festival Film Pelajar Jogja #10, 2 orang pembina, serta 2 orang lain di luar finalis dan pembina. Para peserta yang hadir berasal dari daerah yang berbeda-beda yakni Probolinggo, Klaten, Lampung, Gresik, Jogja, dan Tangerang. 

"Bagi pendidik seperti dosen dan guru harapannya bisa memahami dan menanamkan tentang konsep multikultur kepada siswa-siswinya. Sedangkan bagi siswa harapannya bisa menerapkan konsep multikultur itu dalam materi pelajaran contohnya dalam membuat cerpen. Lalu bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghormati orang lain yang berbeda, terbuka sensitivitasnya terhadap orang lain yang berbeda," imbuh Ainul Yaqin lagi menyampaikan harapan dibuatnya buku ini. 

Hari Sutantya, pembahas sekaligus Lemlitbang STIE Mitra Indonesia dan STiPsi menanggapi Ainul dengan lebih mengkaitkan pendidikan multikultur dengan era sekarang yang serba teknologi. Beliau menjelaskan mengenai The Wisdom Hierarchy serta adanya 3 karakter penting dalam startup yakni Hustler, Hipster, dan Hacker.

"Bicara soal pendidikan multikultur, kalau saya lebih mengkaitkan dengan teknologi terutama media sosial yang merajai masyarakat zaman sekarang. Saya berpesan saja agar peserta yang datang disini terutama lebih banyak anak-anak SMP dan SMA ya. Bisa lebih memfilter apa yang diterima dari internet, dari media sosial, agar tidak mudah termakan hoax, tidak mudah timbul konflik. Kita harus berhati-hati agar tidak jadi bangsa yang hancur karena internet," ujar Hari Sutantya. 

Hal ini pun diterima Ida Purwaningrum S.Pd selaku pembina dari SD Muhammadiyah Manyar Gresik yang juga mengikuti Festival Film Pelajar Jogja #10 ini. Beliau mengatakan bahwa program ini berkesan karena bisa menambah ilmu.

“Paling berkesan tadi penjelasan tentang media sosial seperti instagram dan facebook. Penjelasan tadi mengingatkan kami sebagai pembina dan pendidik untuk wajib memberitahu ke anak-anak tentang informasi-informasi yang belum valid. Tugas para pembina dan pendidik adalah membimbing agar informasi yang didapat dari media sosial disaring terlebih dahulu," pungkas Ida. (Felicia Echie/Mahasiswa UAJY)

BERITA REKOMENDASI