Begini, Suasana Nyepi di Pura Jagatnatha

YOGYA,KRJOGJA.com – Umat Hindu di wilayah Yogyakarta memulai menjalani Catur Brata penyepian Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941. pada satu hari ini, umat Hindu harus menyepi dan tidak boleh melakukan aktivitas seperti biasanya.
 
Suasana nyepi di pura Jagatnatha jalan 
Pura, Jomblangan, Banguntapan, Bantul tidak terlihat adanya aktivitas. Pantaun krjogja.com pagi tadi, pintu gerbang pura juga tertutup. Artinya umat hindu tidak menerima tamu selama nyepi berlangsung.
 
Selain itu juga, Tampak terlihat orang di dalam pura jagatnatha yang sekadar berbaring atau bersandar menikmati keheningan di aula utama. 
 
Menurut keterangan Endang warga setempat mengungkapkan, pada hari biasa pura jagatnath terdapat aktivitas diaula serbaguna. Baik untuk latihan gamelan atau kegiatan lainnya yang dilakukan di pura tersebut.
 
" Karena momenya lagi nyepi, saya tidak melihat aktivitas di pura," kata Endang.
 
Sementara itu, nyepi di Yogyakarta juga nampak berbeda dengan nyepi di Bali. Para pedagang sekitar pura jagatnatha tetap berjualan meski hari nyepi. " Toko saya tetep buka, karena nyepi di Yogya kan tidak sama kaya adat bali, kata pemilik toko yang tidak menyebutkan namanya.
 
Hal lain yang diungkapkan mbah akhir dengan obrolan singkatnya, karena mbah Akhir segan untuk berbicara pada perayaan nyepi.  Mbah mengatakan, dirinya tidak mengikuti nyepi di tahun ini. " Ada suripah ( Orang meninggal) dari warga sini, saya harus berkunjung dan mengikuti adat sini," pungkasnya.
 
Dalam hal ini Catur Brata Penyepian memang disarankan untuk Amati Geni di mana para jemaah tidak boleh menyalakan api, lampu atau alat elektronik.
 
Amati Karya yakni tidak boleh melakukan aktivitas baik kerja maupun fisik sebagai cara merefleksi diri sekaligus introspeksi atas hidup yang dijalani. Ketiga adalah Amati Lelanguan di mana umat Hindu tidak boleh menghibur diri atau melakukan kesenangan. Amati Lelungaan yang artinya dilarang bepergian. (Ive)

BERITA REKOMENDASI