Belajar Sejarah dan Berwisata di Benteng Vredeburg

Editor: Agus Sigit

KRJogja.com – Sejak diresmikan menjadi Museum pada 23 November 1992 Museum Benteng Vredeburg tetap eksis dan diminati masyarakat sebagai objek wisata dan edukasi.

Dulunya bangunan ini merupakan benteng pertahanan yang dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I atas permintaan Belanda. Dengan motif agar kuatnya pertahanan dan keamanan Keraton namun nyatanya agar Belanda lebih mudah mengetahui pergerakan Keraton. Kini benteng ini dijadikan Museum Perjuangan Nasional yang diberi nama Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

“Museum Benteng Vredeburg itu Museum Perjuangan Nasional yang dulunya digunakan sebagai benteng pertahanan yang dibangun oleh Belanda” jelas Mahrisa Eswari, edukator dan pamong budaya ahli muda Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta saat di wawancarai di Benteng Vredeburg pada 30 September 2021.

Museum Benteng Vredeburg terdiri dari IV Diorama. Masing-masing Diorama memiliki rentetan bukti sejarah yang berkelanjutan. Mulai dari Diorama I yang berisikan sejarah perjuangan bangsa yang ada di Yogyakarta yang terjadi sebelum masa kemerdekaan. Meliputi perang Diponegoro, berdirinya Muhammadiyah, Taman Siswa, tentang penggiat perempuan sampai pada masa kedatangan pasukan Jepang ke Indonesia.

Diorama II berisikan bukti sejarah pasca kemerdekaan. Menggambarkan situasi Yogyakarta setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1045. Kemudian bagaimana perlawanan yang mulai timbul di beberapa daerah setelah kemerdekaan. Dan juga terdapat gambaran situasi tahun 1946 mengenai perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Yogyakarta.

Lalu pada Diorama III masuk pada agresi militer Belanda II, yaitu saat TNI melakukan perlawanan pada perang Gerilya, kemudian juga terdapat simulasi Serangan Umum 1 Maret.

Sedangkan pada Diorama IV berisikan tentang Indonesia pada masa modern. Setelah Indonesia sepenuhnya terlepas dari penjajahan Belanda. Indonesia mulai membagun negeri secara pembagunan fisik dan sumber daya manusia. Juga terdapat gambaran situasi pemilu pertama Indonesia, Trikora, Seminar Nasional Pancasila pertama, lalu G30S yang terjadi di Jogja juga terekam di Diorama IV.

Diorama IV diakhiri dengan masa Orde Baru pada masa mantan Presiden Soeharto tahun 1974. Sedangkan Diorama I diwali sejak terjadinya perang Diponegoro pada tahun 1825.

Mahrisa Eswari juga menyampaikan bahwa pelayanan dan edukasi yang disampaikan oleh pihak Museum Benteng Vredeburg menyesuaikan dengan usia dan jenjang pendidikan masyarakat yang datang berkunjung. Siswa Taman Kanak-Kanak atau TK cenderung dikenalkan pada pengertian museum, fungsi museum, manfaat museum, tokoh penting pada masa museum masih digunakan sebagai benteng dan sebagainya.

“Jika ada kunjungan anak SD maka mereka akan aktif, lincah. Mereka akan suka dengan akan suka diberi materi yang heroik. Misalnya dengan perang-perang dengan visualisasi yang nyata mereka akan lebih tertarik. Sedangkan anak TK akan cocok dengan apa pengertian museum, fungsi museum, kenapa harus ada museum dan pengenalan benda museum secara sederhana. Lalu bagi SMP, SMA, Mahasiswa akan berbeda juga materinya” jelas Mahrisa Eswari.

Tidak hanya pihak museum yang tetap bersemangat menjaga bukti sejarah Indonesia agar tidak terlupakan. Namun juga masih banyak masyarakat yang ingin dan mau untuk mempelajari dan mengenang bagaimana kisah perjuangan bagsa Indonesia.

“Saya kesini supaya mengingat lagi pahlawan dulu, semangat mereka, perjuangan mereka untuk merdeka dan perjuangan setelahnya yang luar biasa” terang Rahmawati (22 th) pengunjung Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta. (*)

Mishbahu Rahma

Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga

BERITA REKOMENDASI