Belum Semua Masyarakat Paham ‘Drop Cover and Hold On’

YOGYA, KRJOGJA.com – Selama ini sebagian besar masyarakat paham jika ada gempa bumi langsung berlindung diri di bawah meja atau kolong kasur. Sambil menutup kepala menggunakan tas, benda lain atau tangan. Pedoman 'drop! cover! and hold on!' sudah menjadi panduan penyelamatan gempa bumi di seluruh dunia.

Namun, istilah 'drop! cover! and hold on!' ternyata tidak sebatas 'berlutut!, Lindungi! dan Pegang! saja. Dan tidak bisa disamaratakan di semua wilayah. Mungkin di Jepang, pedoman tersebut tepat. Karena di sana sebagian besar bangunannya sudah tahan gempa. Sedangkan di Indonesia bisa jadi ketika sudah berlindung di bawah meja, tetap tidak bisa sepenuhnya selamat karena bangunnya belum tahap gempa.

Di sisi lain, ketika kekuatan gempanya hanya ringan dan tetap memilih berlindung di bawah meja. Padahal hanya berjarak 1-2 meter dari pintu, sehingga bisa segera keluar menjadi lokasi aman. Namun jika kekuatan gempanya besar, benda seperti apa yang bisa digunakan untuk melindungi diri.

Hal itulah yang melatarbelakangi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk merevisi ulang panduan penyelamatan dan perlindungan diri saat ada gempa. Sebab, drop! cover! and hold on! tersebut ternyata diadopsi dari luar negeri dan ternyata tidak cocok untuk semua lapisan masyarakat di Indonesia.

"Kita akan membuat panduan penyelamatan diri ketika ada gempa. Dibuat berdasarkan karaktertistik masyarakat Indonesia. Karena antar daerah itu tidak bisa disamakan. Termasuk dalam penerapan drop! cover! and hold on! tersebut," ujar Kepala Seksi Penerapan Rencana Siaga Direktorat Kesiapsiahaan BNPB Dyah Andry di sela-sela diskusi publik panduan penyelamatan dan perlindungan diri serta evakuasi mandiri gempa bumi di Burza Hotel Jalan Jogokaryan Mantrijeron Yogyakarta, Senin (2/12/2019).

Kegiatan ini diikuti perwakilan SAR DIY, TRC BPBD DIY, BPBD DIY, Tagana, PMI hingga Basarnas serta akademisi. Di Indonesia menurut Dyah masih banyak terdapat bangunan yang tidak tahap gempa. Dampaknya, ketika ada gempa bumi banyak bangunan rusak. "Seperti di Palu, Pidi Jaya hingga Lombok. Banyak rumah roboh saat ada gempa. Karena memang struktur bangunannya yang belum tahan gempa," ujarnya.

Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD DIY Danang Samsurizal mengatakan, prosedur penyelamatan diri saat ada gempa itu tidak bisa disamaratakan. Melainkan lebih situasional. Jika memang kurang dari 1 meter ada pintu, lebih baik segera lari keluar. Dibandingkan berlindung di bawah meja. "Karena 35 korban gempa yang selamat itu karena sudah paham prosedur menyelamatkan diri," ungkapnya.(Awh)

BERITA REKOMENDASI