Beras Singkong Jaga Ketahanan Pangan

Editor: Ivan Aditya

PADA masa pandemi Covid-19 para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) harus betul-betul mampu menciptakan terobosan, agar usahanya tidak gulung tikar. Seperti yang dilakukan Agus Ruswanto anggota Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Sleman warga Gentan VI, RT 05/RW 19 Margoagung, Seyegan, Sleman ini. Bermula dari supplier sayuran rumah makan Padang, termasuk daun singkong kini menjadi pengusaha pengolah aneka makanan dari singkong.

“Bahan baku banyak dan murah, disamping membantu petani juga ikut program menjaga ketahanan pangan lebih-lebih dimasa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini kebanyakan masyarakat menurun daya belinya,” ujar Agus Ruswanto didampingi Krisamyono Mukti Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi HIPPI Sleman di rumahnya, Selasa (23/03/2021).

Dengan modal kurang lebih Rp 5 juta, tahun 2010 Agus Ruswanto memulai usaha pengolahan aneka makanan berbahan singkong. Ada bolu singkong, es krim singkong, tape singkong, beras singkong dan lain sebagainya. Sedangkan produk unggulan adalah singkong keju, dan ternyata banyak peminatnya.

Berkat usahanya, Agus sempat mempunyai 40 gerai tersebar di Yogyakarta, Gunungkidul, Purworejo, Semarang, Bogor, dan Jakarta. Sayang, ketika pandemi Covid-19 melanda, kini beberapa gerai terpaksa tutup, dan tersisa 6 gerai. Dari omzet sebelum pandemi rata-rata Rp. 3 juta per hari, sekarang hanya Rp. 300. 000 per hari. Sementara jumah karyawan semula 12 orang, sekarang dua orang untuk membantu produksnya di rumah. Kebutuhan bahan baku singkong, semula 12 kuintal perhari, kini tinggal 3 kuintal per hari.

Menurut Agus Ruswanto, kendala yang dihadapi sekarang ini adalah lemahnya daya beli masyarakat sehingga perlu memutar otak agar usahanya terus bertahan. Produk yang bisa bertahan hingga saat ini adalah kemasan Frozen, yang diambil beberapa cafe di Yogyakarta dan sekitarnya.

Agus pun mulai membuat terobosan baru, kini membuat beras singkong yang masih jarang ditemukan masyarakat kota namun di pedesaan sudah banyak dijumpai. Beras singkong sering disebut leye, bagi masyarakat pedesaan sudah tidak asing lagi terutama di wilayah pegunungan yang biasa tanam singkong untuk kebutuhan makanan pokok. “Beras singkong lebih sehat dari beras padi, karena bebas gula free gluten sehingga aman bagi penderita diabetes,” ujarnya.

Itulah yang membuat Agus lebih tertarik untuk meproduksi beras singkong, setelah pengalamannya disuguhi ketika bertamu di wilayah Wonosobo. Ternyata enak dan kenyangnya bisa bertahan lama.

Kendala yang dihadapi dalam memproduksi beras singkong atau leye, bila musim hujan tidak bisa menjemur sehingga produksinya terbatas. Hartapan Agus punya mesin pengolah beras singkong sebndiri, namun harganya cukup tinggi sekitar Rp. 50 juta untuk kapasitas sedang. Mudah-mudahan mesin produksi beras singkong segera dimiliki, karena permintaan sudah banyak sehingga nantinya tidak membuat kecewa konsumen baik stok maupun kualitas. (Sutopo Sgh)

BERITA REKOMENDASI