Berawal Dari Grup Whatsapp, Paguyuban Cetak Jogja Selenggarakan Kongres

YOGYA, KRJOGJA.com – Siapa bilang industri cetak mendekati senjakala setelah beberapa tahun belakangan jejaring digital terus berkembang. Para pelaku industri cetak di Yogyakarta yang tergabung dalam Paguyuban Cetak Jogja (PCJ) ternyata membuktikan hal sebaliknya.

Tidak kurang 163 pelaku usaha cetak baik kecil maupun menengah di wilayah DIY yang saat ini masih aktif berikrar membentuk PCJ pada 2 Agustus 2017 lalu. Awalnya, pelaku usaha yang ternyata dari berbagai latar belakang seperti desainer, percetakan, teknisi mesin, suplier onderdil mesin bahkan marketing berkumpul dalam satu grup pesan Whatsapp hingga kemudian memutuskan untuk melakukan pertemuan rutin.

Dari pertemuan rutin, anggota PCJ semakin dekat satu sama lain. Mereka bahkan telah melakukan banyak kegiatan baik yang berhubungan dengan bisnis cetak hingga kemanusiaan seperti menyalurkan bantuan di Bantul dan Gunungkidul saat terjadi Siklon Cempaka akhir 2017 lalu.

Koordinator PCJ, M Dedik Hernanto mengungkap, Rabu (28/3/2018) hari ini untuk menegaskan diri, PCJ menggelar kongres pertama menyusun Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga (AD ART) sekaligus memilih kepengurusan. Seluruh anggota yang berasal dari lima kabupaten/kota DIY berkumpul untuk membahas bersama hal-hal tersebut sekaligus bersilaturahmi.

“Kami sebenarnya berawal dari grup Whatsapp, lalu beberapa kali bertemu dan ternyata hampir semua mendapatkan manfaat dari komunitas grup tersebut. Setelah cukup berembug maka diselenggarakan kongres PCJ pertama hari ini yang intinya mempertegas arah besar PCJ kedepan,” ungkapnya.

PCJ sendiri menurut Dedik dibuat untuk membentuk ekosistem sehat antar sesama pelaku usaha cetak. “Ada norma yang bisa dipahami bersama jadi industri cetak khususnya di DIY ini bisa berjalan sehat, itu yang kami harapkan bersama dari rumah PCJ ini,” sambungnya.

Salah satu anggota yang juga panitia kongres, Wawan Topo mengatakan selama ini para anggota menyadari dalam industri percetakan terutama di DIY, tiap pemilik tak bisa bekerja sendiri. “Misalnya untuk mencetak kover dengan tulisan timbul ya dilempar ke rekan yang memang ahli, jadi ada kerjasama yang saling menguntungkan sebenarnya,” ungkapnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI