Berburu Uang Gaib Hingga ke Lereng Merapi

Editor: Ivan Aditya

IKLAN jasa penarikan uang gaib dan sejenisnya banyak bermunculan di intenet. Terlebih pada situasi sulit seperti sekarang, mereka yang mengaku punya kemampuan menarik dan mewujudkan uang gaib dan harta karun, semakin gencar menawarkan jasa. Karena kenyataannya saat ini memang banyak orang mengalami kesulitan ekonomi akibat dampak pandemi Virus Corona.

Beberapa istilah mereka lontarkan untuk memikat konsumen pengguna jasa. Antara lain pesugihan tanpa tumbal diistilahkan pesugihan putih, tarik dana gaib, pesugihan jual musuh dengan menumbalkan orang-orang yang dianggap sebagai musuh dan kemiudian ditukar dengan sejumlah uang yang angkanya fantastis. “Modusnya bermacam-macam. Intinya membuat orang berminat dan mengikuti permainan mereka,” komentar Kirman (56), nama samaran.

Kirman pernah tersesat bertualang di sindikat penjual mimpi tersebut. Awalnya tergiur mendengar cerita seorang teman, sebut saja Joko. Bahwa di lereng Gunung Merapi ada orang pintar bisa mengambilkan uang gaib dengan media keris omyang jimbe dan kembang setaman.

“Saya tertarik mencoba, karena saat itu butuh uang dalam jumlah besar. Kebetulan ada teman punya keris omyang jimbe, bisa dipinjam. Lalu saya hubungi teman yang punya cerita,” kisah Kirman.

Semula Kirman menduga bahwa Joko sudah kenal dengan orang sakti yang dia ceritakan. Ternyata, Joko hanya mendengar cerita dari temannya. “Tunggu habis Isya. Mas Tono sedang dalam perjalanan,” kata Joko.

“Lho, siapa Mas Tono?”

“Dia temanku yang menceritakan kemampuan Mbah Parto (samaran) mengambil uang gaib,” jawab Joko.

BERITA REKOMENDASI