Berhenti di Garis Berbiku, Belasan Kendaraan Kena Tilang

Editor: KRjogja/Gus

SLEMAN, KRJOGJA.com – Garis berbiku (zig-zag kuning) yang ada di bahu jalan beberapa kawasan DIY dibuat untuk pengguna jalan agar tidak menghentikan kendaraan yang bisa berakibat terjadinya kepadatan lalu-lintas. Sosialisasi telah cukup lama dilakukan oleh Dinas Perhubungan DIY dan Direktorat Lalu-Lintas Polda DIY.

 

Bagas Senoadjie, Kasi Manajemen Lalu-Lintas Dishub DIY mengungkap paling tidak ada lima kawasan yang dicat dengan garis berbiku. Pertimbangan kepadatan lalu-lintas yang akan semakin parah dengan adanya parkir bahu jalan membuat keputusan pengecatan garis larangan berhenti kendaraan tersebut dibuat sejak tahun 2017 lalu.

“Kami dari Dishub memiliki pertimbangan kepadatan lalu-lintas seperti di Jalan Solo Maguwoharjo, di Terban, Pasar Kembang, Suryatmajan dan Lempuyangan. Di ruas jalan tersebut, jika ada parkir bahu jalan atau disebut friksi maka akan memperparah kepadatan arus lalu-lintas. Inilah mengapa kemudian kami pasang garis berbiku agar tidak ada kendaraan parkir di bahu jalan,” terangnya ditemui usai razia di Jalan Solo Maguwoharjo Kamis (16/8/2018).

Baca juga:
Siap-Siap, Ratusan Truk Modifikasi Bakal 'Serbu' Yogya
Capai 90 Persen, Persiapan Penerimaan CPNS 2018 Segera Dilakukan

Sebelum diputuskan memasang cat garis biku, Dishub DIY sudah melakukan upaya pemasangan plang larangan berhenti di ruas-ruas jalan tersebut. “Tapi tidak lama hilang plang-plangnya, ini juga yang membuat kami kesulitan menindak dan akhirnya dibuatlah garis biku agar tidak bisa dihilangkan oknum tak bertanggungjawab,” sambungnya.

Di kawasan Jalan Solo Maguwoharjo yang cukup dekat dengan Bandara Internasional Adisutjipto, petugas gabungan Dishub dan Kepolisian yang melakukan razia sempat terlibat kucing-kucingan dengan para pengemudi. Petugas pun harus bersembunyi sebelum melakukan penindakan pada para pelanggar yang berhenti di atas garis berbiku.

Ketika petugas tampak, sepanjang garis berbiku bisa bersih dari kendaraan. Namun ketika tidak ada petugas maka kendaraan baik roda dua maupun empat dengan mudah berhenti di sepanjang kawasan padat tersebut.

“Satu jam kami lakukan operasi, mengeluarkan 15 surat tilang bagi pengemudi baik roda dua maupun empat yang berhenti di atas garis berbiku. Mereka langsung ditindak dan diwajibkan mengikuti sidang di pengadilan atau membayarkan denda di kejaksaan sesuai peraturan yang berlaku,” imbuh Kanit Dikyasa Polres Sleman Ipda Gembong.

Petugas secara periodik akan terus melakukan penertiban di kawasan yang menjadi pintu masuk wisatawan di Yogyakarta seperti bandara dan stasiun. “Kami tidak ingin citra Yogyakarta jadi jelek ketika wisatawan tiba di Yogya langsung macet, ini yang tidak diinginkan tentu saja,” pungkas Bagas Senoadjie. (Fxh)

 

 

BERITA REKOMENDASI