Berita Populer Sepekan : Agum Gumelar Mengaku Mengetahui Penculikan Aktivis ’98 sampai Pelapor Penipuan Investasi Dipanggil Polda DIY, Ustaz Yusuf Mansur Bakal Jadi Tersangka?

BERAGAM  berita telah disajikan dan dinikmati para pembaca setia KRJOGJA.com. Namun, dalam sepekan ini ada lima berita yang mendapat perhatian pembaca. Berikut lima berita terpopuler pilihan pembaca :

Agum Gumelar Mengaku Mengetahui Penculikan Aktivis '98

Agum Gumelar mengklaim tahu nasib para aktivis 1998 yang disebut dihilangkan secara paksa oleh Tim Mawar Kopassus. Mantan Danjen Kopassus itu mengaku tahu setelah mengorek informasi dari anggota Tim Mawar.

Tim Mawar adalah kelompok tak resmi di Kopassus yang dituduh bertanggungjawab atas penghilangan belasan aktivis 1998. Kata Agum, sebagai mantan Danjen Kopassus dirinya melakukan pendekatan kepada anggota Tim Mawar untuk menggali informasi seputar penculikan.

Langkah itu ditempuh ketika dirinya menjadi anggota Dewan Kehormatan Perwira (DKP) pada 1998. DKP dibentuk untuk mengusut kasus penculikan aktivis. Hasilnya, Agum  mengaku tahu bagaimana korban penculikan itu dibunuh dan dibuang. "Tim Mawar yang melakukan penculikan itu bekas anak buah saya juga, dong. Saya juga melakukan pendekatan dari hati ke hati," kata Agum.

Kalahkan Istri Sendiri, Marwan Pulang Digendong Warga

Sebanyak 269 desa di Klaten Rabu (13/3) menggelar Pilkades serentak. Hiruk pikuk pesta demokrasi mewarnai hampir di seluruh pelosok Klaten. Kendati demikian, secara umum Pilkades berjalan lancar dan aman.

Dikarenakan aturan baru tidak membolehkan adanya calon tunggal, sejumlah calon kades terpaksa menyiasati dengan mencari rival dari keluarganya. Diantaraya adalah Kades terpilih Desa Temuwangi, Kecamatan Pedan, Marwan Tujiarto. Calon yang memenangkan pemilihan untuk periode jabatanya yang ketiga tersebut berhadapan dengan istrinya, Nur Safitri. Namun demikian, saat pencoblosan, Nur Safitri tidak naik pentas. Dengan ketidakhadiran istrinya tersebut, secara otomatis Marwan memenangkan pemilihan.

Usai penghitungan suara dan dinyatakan menang, Marwan langsung sujud syukur, lalu mendapat kejutan tumpeng ulang tahun dari warganya. Selanjutnya Marwan digendong warga menuju rumahnya yang berjarak sekitar satu kilometer.

Ketua Pantia Pilkades Temuwangi, Paimin Supomo dan Ketua BPD Temuwangi Purnadi mengemukakan, pemilih yang hadir sebanyak 1. 850 Orang. Suara sah 1.505, dan suara tidak sah 345 suara. Suara tidak sah, karena calon nomor 01 tidak manggung sehingga suara yang didapatkan dinyatakan tidak sah. Selain itu juga karena salah coblos, tidak dicoblos atau dicoblos dua duanya.

Muhi Satukan Cak Nun dan Om Wawes dalam Satu Panggung

Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (Muhi) bakal menggelar pergelaran seni bertajuk Indonesia Bersyukur ‘Pesan Perdamaian dari Muhi Jogja’ bertempat di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, Minggu (17/03/2019) malam. Dalam acara tersebut, hal menarik akan tersaji di mana Emha Ainun Najib atau yang akrab disapa Cak Nun akan berada satu panggung dengan anak-anak muda pelantun dangdut dari Om Wawes.

Mahyudin Al Mudra, Ketua PP Alumni Muhammadiyah 1 Yogyakarta dalam temu media di Resto Merapi Rabu (13/03/2019) mengatakan setelah melewati pembicaraan panjang akhirnya agenda pergelaran seni tersebut bisa diselenggarakan. Menurutnya akan ada banyak penampil yang seluruhnya merupakan alumni Muhi dalam agenda gratis Minggu malam tersebut.

“Emha Ainun Najib (Cak Nun), Busyro Muqqodash, Ebiet G Ade hingga Om Wawes dipastikan tampil. Mereka semua adalah alumni Muhi yang nantinya akan menyuarakan semangat Indonesia Bersyukur,” ungkapnya.

Mahyudin memastikan agenda acara yang bertujuan mengumpulkan para alumni Muhi dari berbagai angkatan ini bebas dari muatan politik pihak manapun. “Kami merasa harus bersyukur karena masih diberikan kesejukan di tengah panasnya suasana politik saat ini. Ada Ebiet tampil dengan lagu yang luar biasa. Cak Nun juga mengajak kita bersyukur atas apa yang Indonesia miliki selama ini. Kami pastikan bebas dari kepentingan politik kubu manapun,” sambungnya.

Mencoba Mengungkap Misteri Supersemar

SURAT Perintah Sebelas Maret atau Surat Perintah 11 Maret yang disingkat menjadi Supersemar adalah surat perintah yang ditandatangani oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno pada tanggal 11 Maret 1966.

Hari ini tepat 53 tahun, surt sakti itu dikeluarkan. Namun, tak banyak yang diketahui tentang surat yang membuka jalan kekuasaan Orde Baru itu. Saat ini arsip negara menyimpan tiga versi Surat Perintah Sebelas Maret. Salah satunya berasal dari Sekretariat Negara, yang lain dari Pusat Penerangan TNI Angkatan Darat dan terakhir cuma berupa salinan tanpa kop surat kenegaraan. Ketiga surat tersebut dinyatakan palsu oleh sejarahawan. Hingga kini tidak jelas di mana keberadaan salinan asli Supersemar.

Mengutip dari berbagai sumber banyak misteri yang menggelayuti penandatanganan Supersemar. Awalnya Sukarno dilarikan ke Bogor setelah sidang kabinet 11 Maret 1966 di Jakarta dikepung oleh 'pasukan liar' yang kemudian diketahui adalah pasukan Kostrad. Di Bogor Sukarno disantroni tiga jendral utusan Suharto. Sejarah lalu mencatat buram apa yang terjadi di Istana. Yang jelas pulang ke Jakarta ketiga jendral telah mengantongi Supersemar.

Tidak jelas bagaimana Sukarno mau menandatangani surat yang praktis melucuti kekuasaannya itu. Kesaksian pengawal presiden, Sukardjo Wilardjito, menyebut Sukarno ditodong pistol oleh seorang jendral utusan Suharto. Catatan lain menyebut Sukarno terpaksa membubuhkan tandatangannya karena saat itu istana Bogor telah dikepung tank-tank TNI dan ribuan massa yang berunjuk rasa.

Pelapor Penipuan Investasi Dipanggil Polda DIY, Ustaz Yusuf Mansur Bakal Jadi Tersangka?

Roso Wahono, pelapor kasus dugaan penipuan investasi modal patungan usaha yang dilakukan Ustadz Yusuf Mansur pada 2012  kembali dipanggil ke Polda DIY Kamis (14/3/2019). Bersama dua saksi yakni Yuni Astuti dan Bambang, Roso dipanggil sebagai saksi untuk melengkapi berita acara kasus yang telah memasuki tahap penyidikan. 

Darso Arief Bakuama, kuasa pelapor saat bertemu wartawan di Mapolda DIY mengatakan pemanggilan Roso setelah memasuki masa penyidikan merupakan angin segar kelanjutan kasus yang melibatkan Yusuf Mansur tersebut. Menurut dia, 1 juta orang yang menjadi korban menunggu status hukum Yusuf Mansur yang saat ini masih belum ditetapkan. 

“Status ke penyidikan dua bulan lalu, hari ini pelapor dan saksi diminta penyidik melengkapi berkas pemeriksaan yang kurang. Pelapor, Roso dan Yuni Astuti serta Bambang menjadi saksi. Harapan kami jelas agar Yusuf Mansyur segera jelas status hukumnya, ya menjadi tersangka,” ungkapnya. 

Darso mengaku bawasanya Yusuf Mansur telah mengembalikan uang investasi Roso senilai Rp 13,2 juta sesuai kesepakatan awal dengan penambahan delapan persen. Namun begitu menurut dia, dikembalikan uang korban bukan berarti menggugurkan proses hukum yang dijalani saat ini. (*)

 

BERITA REKOMENDASI