Berlebaran Bersama De Santos dan Keluarga

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Tantangan utama pada saat pandemi ini yakni bagaimana dapat bersilaturahmi satu sama lain. Khususnya reuni dengan sahabat lama, sanak saudara, dan anak cucu yang lokasinya saling berjauhan. Dalam suasana Syawal ini Jogjakarta Tea House (JTH) pimpinan Prof Dr Laksono Trisnantoro menyelenggarakan acara bertajuk ‘Berlebaran secara virtual bersama De Santos’.

”Kami memilih untuk mengundang keluarga pecinta musik,’ ujar Laksono yang akrab dipanggil Coco ini.

Selanjutnya dijelaskan keluarga Santoso Poedjosoebroto cukup dikenal di Kota Yogyakarta karena selama hidupnya Dr RH Santoso Poedjosoebroto SH yang berprofesi sebagai hakim juga aktif di berbagai kegiatan sosial.

Acara dipandu oleh MC Wiwied Trimurti. Disamping mendengarkan 16 lagu sajian De Santos dari berbagai aliran (genre) acara juga diisi dengan perbincangan tentang relevansi musik keluarga dengan kebutuhan berkumpul saat ini. Hadir memberikan komentar adalah Dr. Ir. Laretna Adishakti, Addie MS dan Keenan Nasution.

Mewakili keluarga De Santos, Haryo Sasongko menjelaskan kiprah keluarga Santoso dalam bermusik. Santoso Poedjosoebroto seorang ahli hukum dan abdi negara beserta istri Tien Santoso telah menanamkan jiwa seni musik sejak kecil kepada putra-putrinya bahkan sampai generasi cucu.

”Dalam berbagai kesempatan ketika mengadakan pertemuan dengan anggota keluarga satu sama lain, keluarga Santoso selalu menyanyikan sesuatu lagu dan memainkan instrumen,” kata putera nomor dua Santoso yang akrab dipanggil Kongko dan mengembangkan gitar yang bermotif batik.

Laretna Adishakti yang panggilannya Sita mendukung kegiatan ini. Menurut dosen UGM jurusan arsitektur ini, keluarga Santoso selalu aktif dalam setiap acara di sekolah, kampus bahkan setelah selesai mengabdi di pemerintahan dan sekarang telah menjadi pensiunan ASN. Rasa keguyuban dalam musik itu menghasilkan semangat tinggi dalam kegiatan apapun termasuk pelestarian batik dan pusaka budaya.

”Musik adalah bagian dari pelestarian. Batik termasuk arsitektur. Pusaka alam, pusaka budaya. Ini layak untuk dilestarikan,” ujar Laretna atau penulis buku Kota Pusaka sebagai Pembangkit Ekonomi Kreatif di Indonesia (2014) tersebut.

Sementara itu dirijen merangkap komposer kondang Addie MS mengatakan musik itu merupakan penghargaan kepada perbedaan. Berbagai jenis instrumen dalam suatu orkestra misalnya, itu memang tujuannya untuk diharmoniskan. Lagu-lagu Trilogy dan Triumvirat memang beraliran Art Rock itu memerlukan ketrampilan tersendiri.

”Keluarga de Santos ini mencerminkan suatu ‘oase’ yang sejuk untuk berkumpul bersama keluarga dan main musik bareng. Ini keteladanan,” kata Addie MS.

Penyanyi dan pemain musik Keenan Nasution yang hadir dalam acara itu menyatakan progressive rock lahir di Inggris setelah Beatles sukses meluncurkan lagu ‘Strawberry fields Forever’. Keunikan genre ini adalah dari kord sampai permainan instrumennya, sangat berbeda dengan musik lainnya.

”Dan ini tantangannya, karena terdapat kembangan yang khas dalam Art Progressive Rock,” kata pencipta lagu ‘Nuansa Bening’ tersebut.

Lagu persembahan yang diciptakan masing-masing anggota keluarga De Santos antara lain: ”Banjarmasin” (Ibu H. Soeyatini Santoso), ”Lagu Berlalu” (Kongko), ”Mars Pramuka Peduli” (Bambang) dan ”Move towards hope” (Bagas). (*)

BERITA REKOMENDASI