Bhinneka Tunggal Ika Perlu Dikembangkan Berkelanjutan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Munculnya ekstrimisme dan radikalisme atas nama agama pasca Pilkada lalu, cukup mengkhawatirkan dan mengancam stabilitas nasional. Ungkapan bernada provokasi dan SARA yang diunggah di media sosial telah menimbulkan potensi kegentingan dalam kerukunan antarumat beragama di republik ini.

"Situasi ini tentu sangat berbahaya," terang Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Sidarto Danusubroto dalam Rembuk Nasional 2017 bertema 'Merawat Bhinneka Tunggal Ika dan Memperkokoh Kebangsaan' di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sabtu (30/09/2017).

Menurut Sidarto, nilai-nilai kebhinnekaan dan kesadaran multikultural perlu ditumbuhkembangkan secara berkelanjutan di tengah masyarakat. Budaya berinteraksi dan bersikap toleran dengan menerima dan menghormati segala perbedaan akan menjadi perekat kehidupan dan kebudayaan bangsa.

"Implementasi nilai-nilai kebhinnekaan diharapkan dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme yang selanjutnya dapat membentuk jati diri bangsa, menempatkan kepentingan umum atau negara di atas kepentingan pribadi atau golongan," ujar Sidarto.

Gubernur DIY, Sri Sultan HB X mengatakan, bangsa Indonesia perlu menempatkan Bhinneka Tunggal Ika sebagai strategi memperkuat integrasi bangsa, bukan simbol semata. Selain itu, kebaradaan laut harus dipahami sebagai pemersatu teritorial NKRI yang terdiri dari ribuan pulau-pulau, bukan sebagai pemisah daratan. "Pemerintah perlu mempertegas hal ini," ujar Sultan.

Sultan juga menyoroti peran kepala daerah sebagai pembina wilayah, yang belum optimal dijalankan. Menurutnya, sebagai pembina wilayah, kepala daerah sudah semestinya turun tangan jika terjadi konflik horisontal, jangan hanya mengandalkan kepolisian atau TNI. "Agar terwujud stabilitas keamanan di tengah masyarakat, hukum harus ditegakkan secara konsisten," kata Sultan.

Rektor UGM Prof Ir Panut Mulyono MEng DEng mengatakan, sebagai universitas Pancasila, perjuangan sekaligus pusat kebudayaan, UGM terus berkomitmen merawat keindonesiaan dengan memperkokoh serta mengembangkan prinsip-prinsip kebhinnekaan. Dengan potensi akademisi dan mahasiswa yang dimiliki, UGM siap menyumpang gagasan dan saran terkait implementasi nilai-nilai kebhinnekaan.

"UGM terus bersinergi secara komprehensif dengan berbagai pihak melakukan restorasi sosial di Indonesia berbasis kebhinnekaan, sebagaimana visi misi Presiden Joko Widodo yang tertuang dalam Nawa Cita " katanya.

Menurut Panut, Balai Senat UGM menjadi bukti kebhinnekaan Indonesia tersebut, dimana di sisi selatan dinding terpampang foto-foto Rektor UGM terdahulu yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Selain itu UGM mendorong putra-putri dari seluruh daerah terutama terdepan, terluar, tertinggl (3T) untuk menuntut ilmu di UGM, agar tercipta pemerataan pembangunan.

"UGM terus menggali, mengelaborasi, gagasan kebangsaan. Mahasiswa UGM harus menjadi Indonesia yang sejati," katanya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI