BI DIY Dukung Peluncuran Visiting Jogja

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Bank Indonesia (BI) ikut mendukung program pemulihan ekonomi di DIY yang mengalami kontraksi dalam pertumbuhan ekonominya akibat dampak pandemi Covid-19. Dukungan pemulihan ekonomi di DIY tersebut diwujudkan BI dengan bersinergi bersama Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) DIY dan Dinas Pariwisata (Dispar) DIY guna meluncurkan aplikasi Visiting Jogja dan Jogja Pass. Kedua aplikasi ini merupakan Application Programming Interface (API) alias perangkat lunak yang mengizinkan dua aplikasi terhubung satu sama lain.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Hilman Tisnawan mengatakan sebagai bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), pemulihan ekonomi di DIY akan mendapatkan bantuan berbagai stimulus maupun program. Untuk itu, BI DIY tengah berupaya mendorong segera dihidupkan atau digerakkan sektor riil atau usaha meskipun masih di tengah masa pandemi Covid-19.

Pihaknya tidak hanya sekedar melakukan monitoring penyaluran dana-dana bantuan yang digulirkan pemerintah baik pusat maupun daerah, tetapi BI melihat perlunya sektor- sektor riil usaha yang ada di DIY harus segera bergerak.

” Dari sisi supply pendanaan, rasanya para pengusaha berpikir kalau berproduksi barangnya ada yang membeli atau tidak. Jadi problematikanya adalah pasar, sehingga pelaku usaha harus mulai bergerak. Kita ingin pariwisata di DIY bergerak sehingga terjadi aktivitas ekonomi mulai dari mobilitas orang, permintaan rumah makan, akomodasi, toko oleh-oleh, kerajinan tangan dan sebagainya,” kata Hilman di Yogyakarta, Kamis (20/08/2020).

Hilman menekankan dukungan permodalan atau pendanaan akan sia-sia, apabila tidak ada yang membeli produk-produk yang dihasilkan. Oleh karena itu, pihaknya menjalin sinergi dengan Diskominfo DIY dan Dispar DIY akan meluncurkan aplikasi Visiting Jogja dan Jogja Pass. Kedua aplikasi berbeda ini mempunyai tujuan yang sama dan saling melengkapi serta berkomunikasi.

“Aplikasi Jogja Pass ditujukan guna menjangkau mencatat semua orang yang datang ke DIY sehingga memudahkan dalam tracing. Sementara itu, aplikasi Visiting Jogja lebih spesifik ditekankan bagi pariwisata yang dapat menggerakan perekonomian di DIY,” ujarnya.

Kedua aplikasi yang merupakan program API ini diharapkan menjadi suatu solusi guna memonitoring dan mencatat seluruh pergerakkan orang yang datang ke DIY dengan detail sehingga tidak terjadi penumpukan massa atau kerumunan orang yang berpotensi terjadinya penularan Covid-19. Kehadiran dua aplikasi tersebut di luar pandemi, justru akan menjadi database pariwisata DIY kedepannya.

“Kuncinya pendataan yang akan mempermudah perencanaan, pengembangan, kebijakan, intervensi dan semua hal yang dibutuhkan,” pungkas Hilman. (Ira)

BERITA REKOMENDASI