BI DIY Siapkan Pendampingan

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Bank Indonesia (BI) DIY dalam berbagai kesempatan ingin mengusung program-program yang mampu menurunkan defisit transaksi neraca berjalan, tentunya diharapkan bisa surplus. BI DIY melihat kembali peluang-peluang ekspor yang bisa ditingkatkan untuk menambah cadangan devisa salah satunya potensi ekspor di DIY.

”Ekspor itu harus dilihat dari dua sisi yaitu kesiapan DIY sendiri dan kebutuhan konsumen atau buyer di luar negeri. Saya melihat banyak potensi-potensi ekspor dari DIY. Apalagi produk-produk dari UMKM DIY seperti tekstil dan turunannya sangat disukai importir di sana,” ujar Kepala Perwakilan BI DIY Budi Hanoto di Yogyakarta.

Dikatakan, pertumbuhan ekspor di DIY mencapai 11,71 persen dan impor 5,71 persen (yoy) sampai dengan Triwulan II 2018. Negara tujuan ekspor yang utama adalah Amerika Serikat (AS) sebesar 35 persen dan Eropa 34 persen, sementara negara importir didominasi Jepang dan Korea sebesar 12 persen, ASEAN 5 persen dan China 3 persen. Komoditas penyumbang ekspor utama di DIY yaitu tekstil dan produk turunan 52 persen, furnitur 19 persen dan kulit 5 persen.

”Artinya industri kreatif yang mengarah pada fashion harus menjadi motor pengerak ekspor DIY kedepannya,” katanya.

Menurut Budi, DIY melalui BKPM-nya harus mencari buyer-buyer dari luar kemudian produk DIY harus dikurasi dan sertifikasi masuk standar ekspor atau tidak. Dari sisi buyer, DIY harus bekerja sama dengan kedutaan, Diaspora dan forum-forum investor seperti Jogja Investor Forum serta terakhir adanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). KEK ini perlu ada untuk mengelola produk unggulan DIY yang diberikan fasilitas, insentif sehingga DIY mampu memproduksi produk yang berkualitas internasional.

”Saya rasa banyak produk DIY yang premium seperti kulit, sandang, kulit, tekstil yang kualitasnya sangat bagus. Jika KEK bisa diwujudkan di DIY, baru mencari terobosan pasar ekspor yang selama ini hanya terpusat di AS. Pasar baru yang bisa dibidik masih banyak seperti Eropa Timur, Afrika, Selandia Baru dan sebagainya,” paparnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI