BNP2TKI Bekali Skill Calon Pekerja Migran Indonesia

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRJOGJA.com – Balai Latihan Kerja Dan Pengembangan Produktivitas (BLKPP) DIY bekerjasama dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menggelar pelatihan kepada Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) 2019 di Yogyakarta. Senin (16/09/19).

Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi (upgrading skill) bagi CPMI yang akan bekerja di luar negeri. Sekaligus Memberikan keterampilan dan keahlian diberbagai kejuruan yang memiliki etos kerja produktif, sehingga mampu mengisi kesempatan kerja dan mampu bersaing dengan tenaga kerja asing.

"Dalam rangka meningkatkan kemampuan CPMI yang akan bekerja ke luar negeri. Mereka harus menyiapkan kompetensi baik soft skill maupun hard skill," kata Direktur Pemetaan dan Harmonisasi Kualitas BNP2TKI, Seriulina BR Tarigan, kepada KRJOGJA.com usai pembukaan pelatihan di Kantor BLKPP DIY.

Menurutnya, CPMI dari Yogyakarta termasuk tinggi peminatnya. Sementara kompetensi pekerja Migran Indonesia sebagian besar yang masih kurang ada di sisi bahasa. Sedangkan sisi skill sudah cukup. Sehingga kemampuan bahasa menjadi tantangan.

"Misalnya Bahasa Inggris saja masih harus ditambah. Walaupun anak-anak sekolah dasar saja sudah ada pelajaran Inggris. Tapi ternyata ketika lulus sekolah, Bahasa Inggris belum cukup bagi user," ujarnya.

Pelatihan CPMI di Yogyakarta diikuti sebanyak 64 orang dari berbagai daerah, yang dibagi tiga kompetensi. Yaitu 32 CPMI jurusan Bahasa Inggris sebanyak 2 kelas yang terdiri dari 16 orang rencana penempatan ke Malaysia dan 13 orang ke Polandia serta 3 orang ke Hotel Holiday, Doha dan Qatar.

Pelatihan keterampilan kejurusan Juru Las SMAW 3 G (welder), yang terdiri dari 16 orang penempatan Malaysia. Sementara itu, 16 orang masuk keterampilan Kejuruan Penyiapan Produk Roti dan Pattiserue. "CPMI akan mendapatkan pelatihan Bahasa Inggris, skill Las, kemudian juru roti. Mereka juga mendapat bekal attitude selama satu bulan ke depan," ucapnya.

Pelatihan CPMI berbasis Kompetensi dibebankan pada dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Dekonsentrasi tahun anggaran 2019. "Bahwa seluruh biaya yang dikeluarkan dalam pelatihan ini, itu ditanggung 100 persen oleh APBN. Dan termasuk transport peserta akan disediakan," tuturnya.

Seriulina menambahkan, kompetensi CPMI harus menjadi harga mati. Karena kalau Indonesia tidak memiliki kompetensi, maka akan kalah saing dengan tenaga asing. Oleh karena itu, pelatihan tersebut menjadi konsen bagi pemerintah.

"Harus kita sinergikan. Semakin kompetensi kita tinggi, semakin tinggi daya tawar kita. Yang nantinya akan berdampak kepada permintaan gaji," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY, Andung Prihadi Santoso mengatakan, akan memberi sinergi dan mendukung pelatihan tersebut.  "Kami bersinergi membantu, kenapa? Karena BNP2TKI membantu mencari pekerjaan untuk mengurangi pengangguran. Pelatihan inikan juga untuk membangun kemampuan mereka yang ingin bekerja sesuai minatnya. Sehingga lebih banyak lagi orang-orang yang bekerja formal," imbuh Andung. (Ive)

 

 

BERITA REKOMENDASI