BPOM Yogyakarta Monitoring dan Evaluasi Program Pasar Aman dari Bahan Berbahaya

YOGYA, KRJOGJA.com – Badan POM RI melalui Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Pelaku Usaha (PMPU) telah menginisiasi Program Pasar Aman dari Bahan Berbahaya sejak tahun 2013. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan memperkuat komitmen dan dukungan Pemerintah Daerah, pemangku kepentingan, komunitas pasar dan Lintas Sektor terkait.

"Berdasarkan hasil pengawasan Balai Besar POM di Yogyakarta, keberadaan pangan mengandung bahan berbahaya masih ditemukan pada ke-9 pasar intervensi tersebut," ungkap Kepala BPOM Yogyakarta Dra Rustyawati, Apt MKes, Epid usai Monitoring dan Evaluasi sebagai rangkaian Program Pasar Aman dari Bahan Berbahaya, Selasa (03/12/2019).

BACA JUGA :

BPOM Yogya Hadirkan Galenovik JogjaTOP, Ini Harapannya

Menurut Dra Rustyawati dukungan dari para pemangku kepentingan sangatlah penting dalam mendukung keberhasilan dan keberlangsungan program ini. Selain itu,  bentuk dukungan dengan mengoptimalkan tugas dan fungsi masing-masing SKPDsebagaimana tercantum dalam Instruksi Presiden nomor 3 tahun 2017 tentang Peningkatan Efektifitas Pengawasan Obat dan Makanan.  

"Adapun pasar di DIY yang sudah diintervensi Program Pasar Aman dari Bahan Berbahaya mulai tahun 2013 – 2019 yang terdiri dari Pasar Sambilegi, Pasar Demangan, Pasar Wates, Pasar Niten, Pasar Argosari, Pasar Imogiri, pasar Piyungan, pasar Gentan dan pasar Kranggan," ungkap Kepala BPOM Yogyakarta.

Kepala BPOM Yogyakarta menjelaskan hingga saat ini penyalahgunaan bahan berbahaya masih ditemukan dalam pangan. Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap keamanan pangan menjadi salah satu faktor penyebab masih banyaknya tingkat penyalahgunaan bahan berbahaya ini. Adapun faktor penyebab lain seperti kemudahan memperoleh bahan berbahaya, harga yang relatif murah dan keefektifan fungsi dari bahan berbahaya tersebut untuk menghasilkan efek yang diinginkan dalam pangan. Bahkan, dampak terhadap kesehatan yang tidak langsung  terlihat/ dirasakan, menjadi faktor penguat keengganan pelaku usaha pangan untuk mengubah cara produksinya.

"Hasil observasi menunjukkan bahwa pasar merupakan simpul penting dalam rantai peredaran bahan berbahaya yang disalahgunakan untuk pangan ke industri rumah tangga pangan, termasuk pengolah pangan mengandung bahan berbahaya. Bahan berbahaya seperti formalin, boraks, dan pewarna non pangan (misalnya kuning metanil dan rodamin b), masih ditemukan dijual secara bebas dan terbuka di pasar tradisional," paparnya.

Kondisi ini, kata Dra Rustyawati menjadikan pasar berperan menjadi ‘one stop shopping’ bagi para pengolah pangan. Mereka dapat memperoleh pangan segar atau pangan olahan, dan juga bahan berbahaya sekaligus ketika berbelanja. Harapannya implementasi Rencana Aksi Pasar Bebas dari Bahan Berbahaya di daerah dapat berkesinambungan.

"Kami juga berharap diperoleh kesamaan persepsi dari seluruh pihak terkait sehingga bersedia untuk berperan aktif dalam mendukung Pasar Bebas dari Bahan Berbahaya baik di pasar contoh maupun pasar lainnya. Peran nyata dari masing-masing pihak diharapkan dapat menjadi suatu kesepakatan bersama, yang jika memungkinkan diformalkan oleh pimpinan daerah," tandsnya. 

Kepala BPOM menambahkan Output yang diharapkan dari kegiatan monitoring dan evaluasi ini adalah adanya perbaikan terhadap program yang telah berjalan, sehingga tujuan untuk mewujudkan pasar aman dari bahan berbahaya dapat tercapai. (*)

BERITA REKOMENDASI