Buat Tim Offline di Yogya, OYO Ingin Angkat Potensi Desa Wisata

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Platform online penyedia kamar menginap, OYO melakukan ekspansi ke wilayah DIY sejak setahun terakhir. Tak kurang 280 properti dengan 4 ribu kamar disediakan platform tersebut untuk memenuhi kebutuhan menginap konsumen yang hadir ke Yogyakarta.

Maras Mubarak Panjaitan, Hub Head OYO Yogyakarta-Solo mengungkap pihaknya kini terus berupaya mengembangkan diri dengan menambah jumlah kamar di kawasan DIY. Pasalnya, permintaan terus meningkat terutama di masa-masa menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru seperti saat ini.

“Yogyakarta itu tak pernah sepi karena memang destinasi wisata kedua andalan Indonesia setelah Bali. Sekarang ini jumlah total kamar kami di DIY sekitar 4 ribu tapi tetap saja kurang, bahkan di momen liburan ini sudah menolak lebih dari 1.000 pesanan dari konsumen yang ingin menginap di Yogyakarta,” ungkapnya dalam media gathering, Kamis (19/12/2019) petang.

OYO sendiri saat ini mulai melakukan pemaksimalan pelayanan tak hanya secara online saja. Mereka membentuk tim offline yang akan menghandle pesanan grup dengan lebih dari 4 kamar pesanan.

“Kalau di aplikasi kan maksimal hanya 4 kamar, karena itu kami buat tim offline demand manager untuk melayani pesanan grup yang membutuhkan banyak kamar. Harganya juga tetap sesuai dengan apa yang ada di aplikasi, sifatnya juga flat serta terjangkau. Nah tim offline ini yang akan handle,” ungkapnya lagi.

Sementara Ariefika, Area Sales Manager OYO Yogyakarta mengungkap ada beberapa rencana yang akan dieksekusi pada 2020 mendatang diantaranya komitmen untuk ikut mengembangkan desa wisata di wilayah DIY. OYO menurut dia memiliki komitmen tak hanya berjualan saja namun membantu masyarakat untuk mengembangkan perekonomian melalui sisi hospitality yang mendukung pariwisata.

“Kami ada arah ke sana, sudah ada beberapa desa wisata yang ingin menjalin kerjasama dan kami sangat senang karena bisa ikut membantu mereka. OYO ini punya standar kamar setara paling tidak hotel bintang 3 dari segi kebersihan dan kenyamanan. Mengapa tidak ketika bisa diterapkan di desa wisata, bisa memaksimalkan potensi yang ditawarkan,” ungkapnya. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI