Budaya Yogya Sudah Terkontaminasi Barat

YOGYA, KRJOGJSA.com  – Tugu Yogyakarta dibuat oleh Sri Sultan, namun saat ini berubah. Tugu yang seharusnya hanya dicat putih kini berubah ada hiasan ukiran yang berisi Maninggil (menghubungkan yang Maha Kuasa), Wiwiro, Harjo, Pawirojo yang berarti kebaikan untuk 7 pimpinan, yang dimaksud 7 pimpinan adalah Belanda.

"Budaya Yogyakarta sudah terkontaminasi oleh budaya barat khususnya Belanda. Salah satunya adalah simbolis di Tugu Yogyakarta, yang banyak orang tidak mengetahui arti dari warna, aksara Jawa, dan puncak lancip di Tugu Yogyakarta," terang KRT Jatiningrat atau Romo Tirun dalam sarasehan yang digelar Pejuang Ijab Qobul (PIQ) Yogyakarta di Pendapa PDHI Kota Yogya, Jumat (8/11) sore.

Romo Tirun mengungkapkan, banyak orang yang tidak mengetahui makna atau filosofis Tugu Yogyakarta. Jika selama ini banyak yang beranggapan bahwa budaya adalah kesenian saja, maka anggapan tersebut keliru. Sebab, budaya mencakup berbagai hal yaitu cara berfikir, bersikap dan memutuskan sesuatu. Budaya satria diharapkan sampai keranah RT, RW bahkan keluarga.

"Seperti hanya dalam Tugu Yogyakarta yang seharusnya Tugu Golong Gilik yang berarti kesatuan dan persatuan. Dalam agama Islam, Golong Gilik yaitu Habluminallah dan Habluminannas, kesatuan dan persatuan inti dari Pancasila. Simbol adalah harapan dan doa. Golong gilik itu atas bolong bawah silinder, tidak ada sudut atau sekat sama sekali ini adalah bentuk yang sempurna jadi hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain tidak ada perbedaan sama sekali," ungkap Romo Tirun.

Sementara Ketum PIQ Yogyakarta Wiwin Winarko mengatakan, sarasehan yang diselenggarakan Pejuang Ijab Qobul sebagai ajang silaturahmi dan diskusi dengan para tokoh masyarakat yang dahulu ikut memperjuangan Keistimewaan Yogyakarta. "Kami akan terus mengawal Keistimewaan Yogyakarta. Kami juga membagikan rompi dan kaos Pejuang Ijab Qobul," terangnya. (Zie)

BERITA REKOMENDASI