Buka Prodi Profesi Insinyur, USD Tambah Dua Guru Besar

SLEMAN, KRJOGJA.com – Universitas Sanata Dharma (USD) menambah dua guru besar di bidang kimia dan sastra. Surat Keputusan (SK) guru besar ini diserahkan langsung oleh Kepala LLDIKTI wilayah V Prof Dr Didi Achjari SE MCom Ak CA di Auditorium Driyarkara USD, Rabu (22/7). Pada kesempatan ini juga diserahkan SK dibukanya Prodi Program Profesi Insinyur.

SK Guru Besar ini diserahkan kepada Prof Novita Dewi MS, MA (Hons), PhD dan Prof Enade Perdana Istyastono, PhD, Apt. Rektor USD Johanes Eka Priyatma MSc PhD mengatakan, dengan bertambahnya dua guru besar, saat ini USD mempunyai 10 Guru besar. Penyerahan SK Guru Besar terakhir diberikan sekitar empat tahun lalu.

Menurut Eka, jabatan fungsional profesor menjadi tanda lengkapnya pencapaian kualifikasi akademik. Sehingga makin banyak Guru Besar, semakin kondusif pula perkembangan universitas pada umumnya. Atau semakin banyak profesor yang diakui pemerintah, berarti proses untuk menopang pengembangan ilmu terjadi di kampus. “Karena untuk jadi profesor itu orang harus meneliti. Tuntutannya itu makin banyak dan tinggi. Makin banyak profesor berarti pengembangan kontribusi keilmuan bagi universitas,” terang Johanes Eka di sela-sela acara.

Selain itu, makin banyak profesor, berarti kiprah universitas juga bisa semakin leluasa. Seperti Prof Enade aktif di BPOM sedangkan Prof Novita Dewi banyak aktif dalam penulisan buku-buku sastra. Sehingga bisa menaikkan reputasi lembaga juga. “Saat ini masih ada sekitar 6 hingga 7 dosen yang masih antri dalam mengajukan menjadi Guru Besar. Harapannya ya setiap tahun bisa bertambah satu Guru Besar,” beber Eka.

Prof Novita Dewi dan Prof Enade saat menerima ucapan selamat. (Mahar Prastiwi)

Selain itu untuk membangun budaya penelitian di kalangan dosen, pihak Universitas mendorong dosen terbebaskan dari kegiatan nonakademik atau yang bersifat administrasi. Sehingga mereka fokus pada Tri Dharma, terutama Dharma penelitian dan pengajaran. Selain itu juga ada alokasi anggaran untuk penelitian dan publikasi. “Yang menjadi kendala lebih ke prosedural dalam pengajuannya dan ini disampaikan sendirin oleh Kepala LLDIKTI. Harapannya pemerintah makin punya keberdayaan memproses, makin cepat dan simpel,” tandas Eka.

Prof Novita Dewi mengatakan, ia mengajukan menjadi Guru Besar sekitar tahun 2016. Untuk mendapat gelar Guru Besar ini, Prof Novita menempuh jalan yang tak mudah. Ia juga dibantu sejumlah Guru Besar dari perguruan tinggi lainnya dalam menyelesaikan penelitiannya. “Tepatnya tanggal 26 Juli 2016 saya pertama kali kirimkan surat kenaikan akademik. Dari 90,91 angka kredit harus digenapi, baru 2 tahun bisa diselesaikan,” beber Prof Novita.

Sementara itu Prof Enade, mengajukan menjadi Guru Besar pada tahun 2017. Setelah mendapat gelar ini, ia akan menggeluti tentang penelitian di bidang komputasional drug safety. Pasalnya saat pandemi Covid-19, banyak berita soal obat baru bahkan yang menggunakan teknik komputasional. Namun sebagian besar tak dilengkapi validasi yang tepat dan tak dilengkapi dengan analisis safetynya.

“Saya merasa ini ada kepentingan terkait untuk mengimbangi komputasional drug safety ini. Sebelumnya komputasional penemuan obat, sekarang komputasional keamanan obatnya,” ungkap Prof Enade.(Aha)

BERITA REKOMENDASI