Buku Kumpulan Puisi Alm Sumartono Segera Terbit

Editor: Ivan Aditya

BUKU Burung-burung yang Hidup di Pohon Kamboja, buah karya almarhum (alm) Sumartono akan segera terbit. Buku berupa kumpulan 121 puisi tersebut ditulis dalam kurun waktu 1975 s/d 1983. Hal tersebut dijelaskan guru MTsN 3 Bantul Drs Sutanto selaku editor sekaligus adik Sumartono.

Lebih lanjut dikatakan Sutanto, setelah 30 tahun ratusan puisi milik almarhum yang tersimpan di almari, seluruh anggota keluarga berinisiatif mendomumentasikan karyan tersebut menjadi sebuah buku. “Alhamdulillah melalui Komunitas Yuk Menulis pimpinan mbak Vitriya Mardiyati, keinginan kami sekeluarga dapat terwujud,” ungkap Tanto dengan Bahagia.

Sumartono merupakan Guru SD Negeri Mutihan Wirokerten Banguntapan Bantul di Tahun 1983. Lahir pada Senin Kliwon, 3 Februari 1964, dia merupakan putra Sulung dari Dwijo Sumarto (alm) dan Suparmi. Memiliki 3 adik yaitu Sumartini (alm), Sutanto dan Sumartanti. Sumartono mengenyam Pendidikan di SD Wuluhadeg II lulus 1976 , SMPN Sanden lulus 1979, dan SPGN Bantul lulus 1981.

Sejak SMP dia sudah mulai menulis puisi, dan saat SPG bakatnya semakin terasah dengan bergabung di Majalah Media Siswa. Di luar kesibukannya mengajar, waktu itu dia aktif menjadi Pengurus Dewan Kerja Cabang (DKC) Gerakan Pramuka Kwarcab Bantul, Pembina Pramuka di beberapa SD dan SMP di Bantul. Pernah mengikuti Raimuna Nasional Tahun 1982 di Cibubur. Selain menulis dia juga memiliki hobi catur, bermain gitar dan mencipta lagu.

Sumartono dipanggil Allah SWT pada 27 Desember 1983 dalam usia yang masih belia (19 tahun) saat memimpin Perkemahan Bhakti Masyarakat (Pertimas) SMP Dwijaya Karen di Sembungan Kasihan Bantul. Buku ini menarik untuk dibaca karena ada sambutan dari Dosen Ilmu Bahasa dan Budaya UGM, Dr Suhandano MA.

Menurut Suhandano, sebagian besar puisi dalam buku ini bercerita tentang isi hati dan alam. Alam dalam pengertian yang luas, meliputi jagat raya dan isinya seperti gunung, laut, matahari, pohon, burung, malam, pagi, sore, dan sebagainya. Puisi-puisi dalam buku ini memberi gambaran bagaimana dekatnya penulis dengan alam.

Alam dengan segala suasananya telah membangkitkan pikiran dan perasaan yang kemudian terwujud dalam puisi, Puisi-puisi dalam buku ini memiliki kekuatan dalam pilihan kata dan gaya bahasa yang banyak menggunakan metafora. Perhatikan, misalnya, bait pertama puisi ‘Angin Gunung II’: Kabut putih bersekongkol / Menutupi jalan setapak di puncak gunung / Menyentuh embun di ujung hatiku / Mencelupkan hasrat cintaku.

“Semua kalimat dalam bait ini menggunakan gaya bahasa metafora, menjelaskan sesuatu dengan hal lain, atau secara khusus gaya bahasa personifikasi. Kabut putih dijelaskan dengan mengumpamakannya seperti manusia yang dapat bersekongkol, menutupi jalan, dan seterusnya. Selain keindahan bahasanya, puisi-puisi dalam buku ini juga menyajikan tema yang beragam,” pungkasnya. (Rar)

BERITA REKOMENDASI