Bursa dan Yogyakarta Berbagi Perspektif Situs Warisan Dunia

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Sebuah kota tidak dapat bercerita terkait sejarah yang dijalaninya, namun sejarah tersebut tertulis di setiap sisi kota seperti garis yang tertulis di tangan. Berikut perumpamaan terkait dengan seberapa penting bagian-bagian kota dalam menjaga nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya.

Perumpamaan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Arsitektur Istanbul Kultur Universitesi sekaligus Manajer UNESCO World Heritage Site di Bursa Turki Prof Dr Neslihan Dostoğlu dalam Focus Group Discussion (FGD) virtual bertajuk Situs Warisan Dunia UNESCO: Perspektif dari Bursa dan Yogyakarta pada Rabu (25/08/2021). Sejumlah narasumber terkait pun dihadirkan dalam FGD virtual tersebut.

“Menjaga identitas kota menjadi salah satu hal yang perlu dipertahankan. Upaya pengajuan sebagai situs warisan dunia UNESCO tidak dapat hanya dilakukan di awal upaya mencapai titel tersebut, namun merupakan upaya berkelanjutan guna memastikan identitas dan budaya kota tersebut tetap terjaga,” ujar Prof. Dostoglu.

Kepala Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan sebagai bagian dari situs budaya, Kota Yogyakarta perlu melakukan persiapan untuk menjamin sumbu filosofi terjaga dan tetap memperhatikan kenyamanan dari pengunjung area situs budaya tersebut. Hal pertama yang dilakukan oleh Pemerintah Kota adalah mengembangkan pedestrian di pusat kota untuk menjamin kenyamanan wisatawan yang sedang melintas di area tersebut.

“Yang kedua adalah melakukan perencanaan transportasi yang terintegrasi guna menjamin lalu lintas yang berjalan tidak merusak situs budaya yang ada di area tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa hal, seperti adanya giratori yang dijalankan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Yogyakarta hingga pengembangan area-area parkir yang memungkinkan wisatawan menjangkau pusat kota namun tetap memberikan kenyamanan bagi pengunjung,” tuturnya.

Kepala Disbud DIY Dian Lakshmi Pratiwi menjelaskan sumbu filosofi ini merupakan satuan yang tidak terpisahkan dari sejarah lokal dan memiliki kontribusi nilai budaya masyarakat yang ada di DIY. Di sini, sumbu filosofi menjadi perwujudan nilai-nilai peradaban sebagai filosofi kehidupan universal.

“Dengan dasar ini, Kota Yogyakarta kemudian mengajukan situs sumbu filosofi sebagai salah satu situs warisan budaya UNESCO. Upaya ini bukanlah semata-mata hanya untuk prestige, namun lebih sebagai upaya untuk melestarikan adab dan mensejahterakan manusia yang tinggal di kawasan Yogyakarta,” tandasnya.

Direktur Embun Kalimasada Hadza Min Fadhli Robby menyatakan agar dapat berhasil menggapai status sebagai situs warisan dunia UNESCO, paling tidak ada tiga faktor utama yaitu sinergitas aktor, kesiapan dokumen yang mendetail dan rasionalisasi sesuai syarat UNESCO serta perencanaan yang seimbang.

“Status tersebut tidaklah bertahan selamanya. UNESCO dapat mencabut status sebagai situs warisan dunia apabila pemerintah gagal untuk menjaga identitas dan budaya lokal. Karena itulah diperlukan kerja keras berkelanjutan dari berbagai pihak dalam mempertahankan budaya dan situs-situsnya,” pungkasnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI